Tanjungpinang (ANTARA) - Kantor Pelayanan Pangan Gizi (KPPG) Wilayah Riau, Sumbar dan Kepulauan Riau (Kepri) menyampaikan usulan penggunaan produk ikan sebagai menu makan bergizi gratis (MBG) perlu diteliti terlebih dahulu guna memastikan tidak mengandung alergi bagi anak-anak
"Lauk MBG dengan ikan boleh dan berprotein, tapi tidak semua ikan bisa digunakan. Ada jenis ikan yang memicu alergi dan itu berisiko menimbulkan sesak nafas hingga muntah-muntah," kata Kepala KPPG Wilayah Riau, Sumbar dan Kepri Syartiwidya usai rapat evaluasi MBG di Kota Tanjungpinang, Kepri, Kamis.
Pihaknya sangat menggalakkan penggunaan produk-produk lokal di Kepri untuk menu MBG, namun tetap harus memperhatikan kandungan kesehatan bagi anak-anak, terutama menyangkut masalah alergi.
Menurutnya jika tak ada kandungan alergi, produk ikan bisa dimasak lalu diolah menjadi nugget atau sosis ikan untuk menu MBG, sehingga disukai anak-anak.
Baca juga: Wagub ingatkan SPPG di Gorontalo agar intensif evaluasi menu MBG
Syartiwidya mencontohkan di Provinsi Riau, menu MBG menggunakan ikan lele dan patin darat.
"Kita dukung pelaku UMKM di Kepri mengolah nugget atau sosis ikan. Selama ini, menu MBG dari bahan ayam dan telur," ungkapnya.
Sementara, Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura sangat mendukung produk ikan lokal menjadi menu MBG, apalagi daerah itu mayoritas 96 persen laut dengan stok ikan melimpah.
Pihaknya segera berkoordinasi dengan ahli gizi dapur SPPG guna meneliti bagaimana produk perikanan bisa dimasukkan dalam menu MBG.
"Kita ini daerah kepulauan, dengan tingkat konsumsi ikan yang tinggi. Ikan bisa jadi alternatif menu MBG, selain ayam dan telur," ucap Nyanyang.
Baca juga: BGN dorong menu kearifan lokal dalam program MBG di Kota Jambi
Baca juga: SPPG di Padang sajikan rendang dari santan petikan beruk terlatih
Baca juga: BGN: MBG tetap disalurkan selama Ramadhan, menu & penyaluran berubah
Pewarta: Ogen
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































