Pontianak (ANTARA) - Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, memberikan pendampingan terhadap para siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya, termasuk terduga pelaku, pasca insiden pelemparan bom molotov yang sempat mengganggu kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 3 Sungai Raya.
"Sebagai langkah awal, KPAD langsung turun ke sekolah untuk memberikan pendampingan psikologis kepada para siswa yang terdampak, termasuk anak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut," kata Ketua KPAD Kubu Raya, Diah Savitri, di Sungai Raya, Kamis.
Ia mengatakan pihaknya masih melakukan penelusuran mendalam terkait kejadian itu sembari memastikan kondisi mental anak-anak tetap terjaga.
"Kami masih mendalami peristiwa ini. Hari ini pendampingan psikologis langsung diberikan kepada anak-anak agar mereka merasa aman," tuturnya.
Ia menegaskan, koordinasi dengan pihak sekolah serta instansi terkait terus dilakukan guna menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan bebas dari rasa takut, mengingat insiden tersebut berpotensi menimbulkan trauma bagi siswa.
Menurut dia, pemulihan psikologis menjadi prioritas utama agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.
"Sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi anak. Kami ingin mereka kembali belajar dengan tenang tanpa rasa cemas," katanya.
Sebelumnya, suasana belajar di SMPN 3 Sungai Raya sempat terganggu setelah terdengar ledakan keras yang diduga berasal dari lemparan bom molotov. Meski api tidak sampai merambat ke bangunan utama sekolah, kejadian tersebut sempat memicu kepanikan di kalangan siswa dan guru.
Aparat kepolisian segera melakukan olah tempat kejadian perkara dengan melibatkan tim Laboratorium Forensik Polda Kalbar bersama tim Inafis Polres Kubu Raya.
Wakapolres Kubu Raya Kompol Andri Syahroni menyampaikan seorang terduga pelaku telah diamankan di Polsek Sungai Raya. Namun, pihak kepolisian masih mendalami kronologi serta motif di balik peristiwa tersebut.
"Saat ini proses penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap secara lengkap kejadian ini," kata dia.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
“Kami minta masyarakat bijak menyaring informasi dan menunggu hasil resmi dari kepolisian,” ujarnya.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































