KP2MI bahas potensi penempatan PMI ke Bosnia dan Herzegovina

12 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) membahas potensi penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) ke Bosnia dan Herzegovina dengan Duta Besar Indonesia untuk Sarajevo Manahan M.P. Sitompul secara daring, Kamis (8/1).

"Minat kerja sama G2G tentu menjadi peluang, tetapi kami memilih untuk menahan langkah tersebut sementara waktu," kata Wakil Menteri P2MI Christina Aryani, dalam pernyataan pada Jumat.

Dia mengatakan KP2MI ingin menyamakan persepsi terlebih lebih dulu dengan KBRI Sarajevo agar mendapatkan gambaran yang utuh mengenai kondisi ketenagakerjaan, kebutuhan riil, serta kebijakan di Bosnia dan Herzegovina, kata dia lebih lanjut.

Selain potensi penempatan pekerja migran, Wamen Christina dan KBRI Sarajevo juga membahas penguatan sinergi lintas kementerian dan perwakilan Indonesia di luar negeri, utamanya untuk sektor pekerja migran.

Dia menyampaikan bahwa Pemerintah Bosnia dan Herzegovina tertarik terhadap kerja sama penempatan pekerja migran skema Government to Government (G2G), yang disampaikan delegasi Labor and Employment Agency Bosnia dan Herzegovina yang berkunjung ke Indonesia pada 16 Desember lalu.

Sepanjang 2024, terdapat 46 pekerja migran yang ditempatkan ke Bosnia dan Herzegovina. Sementara di 2025 tercatat ada delapan orang.

"Angka ini sangat mungkin belum mencerminkan kondisi faktual di lapangan, karena ada potensi keberangkatan non-prosedural atau pekerja yang masuk dengan visa kunjungan," kata Christina.

Adapun sektor pekerjaan yang saat ini didominasi pekerja migran Indonesia di Bosnia dan Herzegovina adalah sektor hospitality, seperti waiter, asisten koki, dan barista, dengan skema penempatan mayoritas melalui private to private (P2P) dan sebagian skema mandiri.

Lebih lanjut, Wamen Christina menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara penyedia tenaga kerja global, seiring bonus demografi yang dimiliki.

Sementara, banyak negara Eropa menghadapi tantangan penuaan penduduk (aging population) dan kekurangan tenaga kerja produktif.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan kementeriannya, sektor-sektor yang dinilai potensial antara lain kesehatan, hospitality, industri otomotif, manufaktur, serta juru las atau welder yang tengah menjadi tren kebutuhan global.

"Indonesia dinilai memiliki keunggulan dari sisi pasokan tenaga kerja terampil, terutama melalui pendidikan vokasi," katanya.

Wamen Christina mengharapkan dukungan aktif dari KBRI Sarajevo untuk memetakan kebutuhan riil pasar kerja di Bosnia dan Herzegovina, termasuk kebijakan ketenagakerjaan dan keimigrasian setempat.

"Informasi ini akan menjadi dasar penting dalam merancang skema penempatan yang aman, legal, dan berkelanjutan. Kami juga membuka peluang kerja sama di bidang pelatihan dan sertifikasi, termasuk jika negara tujuan ingin terlibat langsung memastikan kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan mereka," katanya.

"Pola seperti ini sudah mulai diminati beberapa negara, termasuk untuk sektor pelaut dan anak buah kapal," imbuh Wakil Menteri P2MI tersebut.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |