Jakarta (ANTARA) - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat menegaskan hanya mengakui Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) sebagai organisasi olahraga yang menangani cabang tenis meja di Indonesia.
"KONI Pusat tidak mengakui organisasi tenis meja di luar PB PTMSI," kata Wakil Ketua Umum 1 KONI Pusat Suwarno dalam acara Musyawarah Nasional PB PTMSI Tahun 2026 di Jakarta, Kamis.
Dia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PB PTMSI yang dipimpin Peter Layardi yang sudah penuh semangat, berupaya secara lahir dan batin, mempertahankan PB PTMSI di tengah dinamika tenis meja Indonesia yang diwarnai dengan dualisme organisasi dengan hadirnya organisasi baru Indonesia Pingpong League (IPL).
Baca juga: Peter Layardi kembalilan berkas pendaftaran Calon Ketua Umum PB PTMSI
Suwarno menjelaskan bahwa di tengah dinamika organisasi yang belum diselesaikan secara tuntas, meskipun sudah ada keputusan dari Mahkamah Agung, PB PTMSI masih berupaya maksimal untuk melakukan pembinaan organisasi maupun para atlet maupun juri.
Pihaknya selalu memantau kemajuan PB PTMSI yang terus menggelar kompetisi serperti Liga Silatama, Liga Silataruna, maupun PTMSI Bersatu Cup, yang semuanya bisa berjalan dengan baik.
Menurutnya, penyelenggaraan berbagai kompetisi itu menandai keinginan dari PB PTMSI yang didukung oleh semua pengurus tenis meja di tingkat provinsi.
"Tanpa dukungan pengurus provinsi, Pak Peter dan kawan-kawannya di PB PTMSI tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itu ini memang semangat kebersamaan yang dibangun sedemikian rupa," katanya.
Suwarno menjelaskan, pada saat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumatera Utara 2024 yang digelar di tengah dinamika tenis meja yang ada, PB PTMSI mampu berkontribusi menggelar kompetisi tenis meja dengan lancar.
Baca juga: IPL bertekad jadikan SEA Games 2025 momentum bangkitan tenis meja
Berbagai upaya menata organisasi, kata dia, juga sudah dilakukan PB PTMSI. Suwarno mengakui kondisi di lapangan masih diwarnai dengan dinamika terkait dualisme, namun kondisi itu menjadi tantangan untuk menyatukan semua elemen tenis meja Indonesia.
"Karena secara hukum juga sudah selesai," katanya.
Suwarno menegaskan bahwa KONI Pusat tidak mengenal adanya dualisme karena hingga saat ini hanya satu organisasi yang diakui untuk menangani tenis meja yaitu PB PTMSI.
Turut hadir dalam Musyawarah Nasional PB PTMSI Tahun 2026 itu, para pengurus tenis meja dari 31 provinsi (perwakilan empat provinsi ikut secara virtual) serta sejumlah atlet dan pelatih.
Baca juga: Tenis meja Indonesia kembali tampil di multi cabang internasional
Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































