Moskow (ANTARA) - Negara-negara yang bergabung dalam Koalisi Sukarela, Senin, menyatakan tekadnya untuk meningkatkan dukungan militer untuk Ukraina, terutama dengan memperkuat sistem pertahanan udara negara tersebut.
Pernyataan itu mengemuka setelah para anggota koalisi dan pemimpin Ukraina menggelar pertemuan di Kyiv yang juga diikuti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni melalui konferensi video.
Dalam pertemuan dibahas masalah pasokan sistem pertahanan udara ke Ukraina, termasuk upaya memperkuat kemampuan negara itu menghadapi serangan rudal.
"Para pemimpin menyatakan tekad mereka untuk meningkatkan dukungan militer kepada Ukraina, memperkuat pertahanan udaranya sebagai prioritas mendesak, meningkatkan kerja sama dengan industri pertahanan, serta berbagi teknologi terkait, termasuk melalui Koalisi Antirudal Balistik," demikian isi pernyataan koalisi itu.
Namun, pihak koalisi tidak merinci langkah-langkah lanjutan yang akan ditempuh untuk meningkatkan dukungan militer kepada Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 1 Agustus mengakui sistem pertahanan udara negaranya tidak mampu mencegat rudal akibat kekurangan rudal Patriot.
Pada 6 Agustus, Wakil Ketua Komite Parlemen Ukraina untuk Keamanan Nasional, Pertahanan dan Intelijen Yehor Cherniev mengatakan kondisi sistem pertahanan udara Ukraina telah mencapai titik terburuk sejak konflik dimulai pada 2022.
Sementara itu, Rusia menilai pasokan senjata ke Ukraina menghambat penyelesaian konflik dan secara langsung melibatkan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam perang.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sebelumnya mengatakan setiap pengiriman yang memuat senjata untuk Ukraina akan menjadi sasaran yang sah bagi Rusia.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Koalisi Sukarela akan latih pasukan untuk pengerahan ke Ukraina
Baca juga: PM Fico tegaskan Slovakia tak akan gabung "Koalisi Sukarela"
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































