Jakarta (ANTARA) - Ketua Pusat Kajian Akuntansi Forensik Indonesia (PUSAKAFI) Mohamad Mahsun mengatakan bahwa banyak laporan keuangan yang sudah diaudit (audited) atau memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), tetapi telah direkayasa.
“Banyaknya laporan keuangan meskipun sudah audited, meskipun opininya WTP, ternyata ada rekayasa, tidak ketahuan,” ucapnya dalam Diskusi Publik "Era Baru Transparansi Akuntansi” yang diadakan Kantor Akuntan Publik Gunawan Ikhwan Abdurahman dan Rekan (KAP GIAR) di Jakarta, Rabu.
Para penyidik di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polri disebut telah familiar dengan istilah window dressing, yakni praktik "mempercantik" atau memanipulasi laporan keuangan agar terlihat lebih baik dan menguntungkan dari kondisi sebenarnya.
Menurut dia, rekayasa laporan keuangan biasanya sudah diniatkan sejak awal, kendati tampak sinkron dalam platform pelaporan keuangan, tetapi tak berhasil terdeteksi.
Baca juga: Pentingnya meningkatkan kualitas profesi akuntan di Indonesia
Rekayasa tersebut baru ketahuan apabila ada pihak yang dirugikan melaporkan ke institusi yang berwenang.
Di tingkat internasional, terdapat tiga jenis kecurangan (fraud) terkait dengan dunia akuntansi.
Pertama ialah penyalahgunaan aset (asset misappropriation), yakni pola kecurangan tradisional atau kuno seperti mengambil barang milik perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Kedua yaitu korupsi, tindakan penyalahgunaan wewenang untuk keuntungan pihak tertentu saja.
Baca juga: UI-IAI sepakat tingkatkan kualitas akuntansi, keuangan dan perpajakan
Terakhir adalah rekayasa laporan keuangan (fraudulent financial reporting) yang dinilai menjadi jenis kecurangan paling bahaya saat ini karena dilakukan secara halus dan tak kasat mata.
“Fraud yang sekarang itu dilakukan oleh orang profesi (untuk) merekayasa laporan keuangan (karena) banyaknya akuntan yang pintar,” ungkap Mahsun.
“Akuntan itu kan ada dua, akuntan hitam dan akuntan putih karena dua-duanya bisa melakukan creative accounting. Creative accounting yang dilakukan akuntan hitam itu ya rekayasa laporan (keuangan), menipu banyak orang. (Adapun) akuntan putih yang bermanfaat bagi stakeholders, yang memerangi para akuntan yang nakal,” ujar dia.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































