Ketika gawai kembali jadi pengasuh

1 week ago 23
Ada jarak antara apa yang diucapkan di media sosial dan apa yang terjadi di meja makan

Jakarta (ANTARA) - Di sebuah restoran keluarga pada jam makan siang, tidak jarang terlihat pemandangan balita duduk di kursi tinggi, piring makanannya nyaris tak tersentuh, matanya terpaku pada layar ponsel yang disandarkan ke gelas air.

Video anak-anak berputar tanpa henti, satu klip berpindah ke klip berikutnya tanpa jeda, dan anak itu makan hanya ketika suapan diselipkan di sela adegan yang menarik perhatiannya.

Orang tuanya bisa makan dengan tenang. Tidak ada tangisan, tidak ada rengekan, tidak ada kekacauan. Di rumah, pola yang sama terjadi saat orang tua mencuci piring, menyeterika, atau menyelesaikan pekerjaan kantor yang terbawa pulang. Gawai diserahkan, dan anak menjadi anteng.

Pemandangan ini bukan hal baru. Ia adalah pengulangan dari sesuatu yang pernah terjadi lebih dari satu dekade lalu, saat YouTube baru meledak sebagai platform tontonan daring bagi semua kalangan.

Ketika itu, banyak orang tua menemukan cara instan meredakan rewel anak dengan menyerahkan gawai berisi video animasi berdurasi panjang. Praktik itu kemudian dikritik keras oleh dokter anak dan pakar tumbuh kembang, yang memperingatkan dampaknya terhadap perkembangan bahasa, kemampuan fokus, dan interaksi sosial anak.

Sebagian orang tua merespons dengan membatasi ketat akses gawai pada anak mereka. Namun peringatan itu rupanya tidak sepenuhnya mengubah kebiasaan secara luas. Ia hanya meredup sementara, lalu muncul kembali begitu generasi baru menjadi orang tua.

Generasi Z, yang kini mulai memiliki anak balita, sebenarnya tumbuh dengan kesadaran digital yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Berbagai laporan tren pengasuhan 2026 mencatat generasi ini justru paling vokal menyuarakan pentingnya waktu bebas layar, bermain di dunia nyata, dan menghindari stimulasi berlebihan pada anak.

Sebagian dari mereka secara sadar mengurangi penggunaan gawai di rumah dan menggantinya dengan aktivitas fisik atau permainan blok kayu.

Tetapi kesadaran filosofis ini ternyata tidak selalu berjalan sejajar dengan praktik harian. Survei lembaga pendidikan anak, Kiddie Academy, menemukan hanya 38 persen orang tua gen Z dengan anak usia nol hingga enam tahun yang benar-benar konsisten menjalankan satu pendekatan pengasuhan yang mereka yakini sendiri.

Ada jarak antara apa yang diucapkan di media sosial dan apa yang terjadi di meja makan.

Jarak itu erat kaitannya dengan tekanan yang dihadapi orang tua muda hari ini. Banyak dari mereka mengasuh anak tanpa sistem dukungan keluarga besar yang dulu lazim dimiliki generasi sebelumnya, sembari tetap harus bekerja, mengelola rumah tangga, dan menjaga kewarasan di tengah kelelahan yang terus-menerus.

Solusi murah

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |