Kemenperin perkuat hilirisasi nilam guna pacu ekspor minyak atsiri RI

3 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat hilirisasi minyak nilam untuk meningkatkan nilai tambah industri minyak atsiri, sekaligus mendorong peningkatan ekspor komoditas tersebut ke pasar global.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, kinerja ekspor minyak atsiri Indonesia menunjukkan prospek yang semakin positif.

Dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, disampaikan dia bahwa berdasarkan data perdagangan tahun 2025, nilai ekspor produk minyak atsiri Indonesia pada HS 3301 mencapai 348,7 juta dolar AS, meningkat sekitar 34,4 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 259,5 juta dolar AS.

“Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk minyak atsiri Indonesia memiliki daya saing dan permintaan yang kuat di pasar global. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industrialisasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Menperin.

Lebih lanjut, pada 2025, Indonesia tercatat sebagai eksportir minyak atsiri terbesar kelima di dunia setelah India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil. Pada periode yang sama, nilai perdagangan ekspor minyak atsiri dunia mencapai sekitar 6,49 miliar dolar AS, meningkat dari 6,29 miliar dolar AS pada 2024.

Menurut Menperin, pengembangan industri minyak atsiri masih menghadapi tantangan dalam menghasilkan produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Namun, minyak nilam atau patchouli oil memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena Indonesia memiliki basis produksi serta pasar ekspor yang kuat.

Data perdagangan menunjukkan nilai ekspor minyak nilam Indonesia pada 2025 mencapai 173,4 juta dolar AS, meningkat sekitar 22,7 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 141,3 juta dolar AS.

Produk tersebut telah memiliki pasar ekspor yang tersebar di berbagai negara, antara lain India, Singapura, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, China, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, Britania Raya, dan Turki.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, pengembangan hilirisasi minyak nilam memiliki potensi besar untuk menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi melalui teknologi pemurnian dan fraksinasi.

Produk turunan tersebut antara lain hi-grade patchouli, fragrance, antiseptic, medicated oil, dan aromatherapy.

“Dengan penguatan hilirisasi, pemanfaatan minyak nilam dapat diperluas, tidak hanya untuk pasar bahan baku, tetapi juga menjadi input bagi industri parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi,” ujar Putu.

Putu menambahkan, pengembangan hilirisasi minyak nilam yang termasuk kategori atsiri ini, perlu dilakukan secara terintegrasi dengan memperkuat ekosistem industri dari sektor hulu hingga hilir.

Upaya tersebut mencakup peningkatan kapasitas petani dan penyuling, penguatan kelembagaan seperti koperasi, peningkatan kualitas serta kontinuitas bahan baku, hingga perluasan akses pasar dan pembiayaan.

Baca juga: ARC USK: Hilirisasi nilam dalam negeri perlu diperkuat ke pasar global

Baca juga: Produksi minyak atsiri di Aceh Barat 22,82 ton/tahun

Baca juga: Sabang mulai budi daya tanaman nilam untuk tingkatkan ekonomi petani

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |