Surabaya (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menggencarkan pemeriksaan mata bagi anak sekolah supaya mereka bisa berprestasi tinggi tanpa gangguan mata.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus saat dikonfirmasi di Surabaya, Minggu mengatakan hari ini pihaknya melihat langsung pelaksanaan skrining mata untuk anak SDN Bulak Rukem 1 Surabaya.
"Hari ini kita lihat sendiri kegiatan ini bagaimana kerja sama lintas sektoral bukan hanya Kementerian Kesehatan tetapi ada juga Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Persatuan Dokter Mata, Dinkes Provinsi, Dinkes Kota Surabaya, Dinas Pendidikan Surabaya," katanya di Surabaya, Minggu.
Ia mengatakan program ini penting dalam mendukung anak mencapai prestasi tinggi karena penglihatan yang sehat.
"Maka ini akan kita masukkan dalam Cek Kesehatan Gratis di sekolah. Ini akan menjadikan kerja sama lebih intens lagi di tahun 2026," ujarnya.
Baca juga: Jangan abaikan, ini alasan harus rutin periksa mata dan manfaatnya
Pihaknya siap membuat program yang lebih tepat, sehingga CKG yang dilakukan pemerintah sudah kepada 55 juta orang, di antaranya sekitar 17 juta anak-anak.
"Nah, tahun depan akan kita fokuskan lagi, ditambah lagi supaya bagaimana kalau menemukan kasus anak-anak yang harus pakai kacamata, itu nanti dikerjakan oleh lintas sektoral baik pemerintah maupun swasta," ujarnya.
Disinggung terkait dengan gaya hidup yang mengakibatkan anak harus memakai kacamata, ia mengatakan, memang menentukan gaya hidup anak-anak sekolah.
"Kenapa kasus mata sekarang meningkat? Tadi kita cek ya, berapa persen dari anak Indonesia usaha sekolah yang harus pakai kacamata,“ katanya.
Ia mengakui sekarang banyak anak menggunakan gawai sejak usia 2-4 tahun.
"Jadi akhirnya kerusakan mata terjadi waktu mereka masuk SD sudah terjadi maka akan terjadi lonjakan kasus. Makanya tadi waktu dilakukan pemeriksaan begitu banyak anak-anak ini mereka terganggu prestasinya karena mereka bacanya tidak tahu dan orang tuanya tidak tahu bahwa anaknya sudah mengalami gangguan yang sangat signifikan," ujarnya.
Ia mengatakan kegiatan seperti ini akan terus dilakukan dan diperluas pada tahun depan dengan melakukan perencanaan lebih bagus, bukan hanya di Kota Surabaya, tetapi seluruh wilayah Indonesia.
"Artinya nanti akan hanya pemeriksaan atau juga akan solusi tepat sampai dengan kacamata, pemberian kaca mata. Justru itu setelah menemukan kasus seperti tadi harus kita cari jalan keluarnya, harus dilakukan tindakan pemberian kaca mata diukur dulu kondisi matanya anak," katanya.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Prof. dr. Budu, Sp.M(K), Ph.D., M.Med.Ed mengatakan tahun ini sekitar 165 juta anak Indonesia rabun dan harus memakai kacamata.
"Dan itu hanya satu di antara empat yang bisa mendapat solusi pemberian kacamata," katanya.
Baca juga: Penanganan awal di rumah ketika alami mata kering
Baca juga: Pentingnya konsultasi dengan dokter untuk atasi mata kering
Baca juga: Kemendikdasmen jajaki penerapan skrining digital kesehatan mata anak
Pewarta: Indra Setiawan
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































