Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berhasil mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua bagi para murid berprestasi untuk menuju Indonesia Emas melalui penyelenggaraan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), termasuk di SNT 09 Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.
Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kemendikdasmen untuk wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Imran dalam pernyataan tertulis di Jakarta pada Selasa mengatakan kehadiran Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 09 Gowa menjadi bagian dari langkah pihaknya dalam menghadirkan satuan pendidikan bermutu yang tidak hanya menjadi ruang belajar bagi murid, namun juga pusat pengembangan talenta dan model peningkatan mutu pendidikan bagi sekolah di sekitarnya.
Kehadiran SNT 09 Gowa, kata Imran, menjadi kekuatan baru untuk melakukan akselerasi pemerataan kualitas pendidikan di wilayah tersebut karena sekolah tersebut didesain dengan standar sarana prasarana, pembiayaan, dan tenaga pengajar yang di atas rata-rata guna memastikan kemajuan prestasi murid berjalan optimal.
“SNT 9 Gowa akan menjadi modeling pengembangan untuk sekolah-sekolah lainnya. Dalam konteks penjaminan mutu, sekolah ini berperan sebagai sister school bagi lingkungan sekitarnya sehingga transformasi kualitas pendidikan menjadi lebih mudah sebagai amplifikator utama di daerah,” ujar Imran.
Imran menambahkan bahwa BPMP memberikan dukungan optimal mulai dari koordinasi peninjauan lokasi hingga pengawalan teknis di lapangan. Selain menjadi inkubator utama bagi para widyaprada dalam pengembangan model pembelajaran, SNT 09 Gowa diposisikan sebagai program mercusuar yang tetap mengedepankan karakteristik kedaerahan dan kearifan lokal dalam kurikulumnya.
Sementara itu, Kepala SNT 09 Gowa M. Sahrul menjelaskan pada tahun ajaran 2026/2027 ini, pihaknya fokus menerjemahkan visi pengembangan talenta melalui pelaksanaan MPLS Ramah.
Visi tersebut, lanjutnya, bertujuan membantu setiap murid menemukan potensi terbaik mereka tanpa adanya penyeragaman dalam proses pembelajaran.
“Kami membangun pola pikir bahwa pendekatan tekanan atau senioritas tidak boleh ada di sekolah. Kami mengedepankan prinsip student voice, student choice, dan ownership agar murid merasa didengar sehingga sekolah benar-benar menjadi rumah kedua (their second home) yang aman dan nyaman bagi mereka,” kata Sahrul.
Sahrul juga menekankan pentingnya pemanfaatan fasilitas World-Class Laboratories dan Creative Arts Studio sebagai ruang aktualisasi dan eksperimen bagi murid.
Menurutnya, integrasi jenjang SMP dan SMA dalam satu manajemen memungkinkan guru untuk memantau kebutuhan belajar secara berkelanjutan, mulai dari tahap eksplorasi hingga tahap unjuk karya yang terspesialisasi.
Salah satu murid angkatan pertama SNT 09 Gowa Afni Afiqah Arifin mengatakan alasannya bergabung karena tertarik dengan konsep pembelajaran yang luas dan fasilitas laboratorium yang lengkap.
Afni yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Ketua OSIS ini berharap SNT dapat menjadi wadah untuk mengasah jiwa kepemimpinannya lebih dalam.
“Awalnya saya merasa gugup karena lingkungan yang baru, tetapi selama MPLS semuanya menjadi sangat menyenangkan karena guru dan teman-teman sangat menyambut. Saya ingin memanfaatkan kesempatan belajar di sini sebaik mungkin untuk mencapai cita-cita dan membanggakan orang tua,” kata Afni.
Baca juga: Kemendikdasmen siap gelar MPLS PJJ secara daring minggu depan
Baca juga: Kemendikdasmen: Gelar karya guru vokasi seni budaya jadi ruang belajar
Baca juga: Kemendikdasmen minta orang tua terapkan prinsip 3S batasi gawai murid
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































