Jakarta (ANTARA) - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengharapkan pelaksanaan program pelatihan bahasa Jepang bagi masyarakat desa dan daerah tertinggal dapat mendorong peningkatan ekonomi keluarga sekaligus kesejahteraan masyarakat secara luas.
"Kami berharap pelatihan ini dapat menjadi ikhtiar bersama untuk meningkatkan taraf kehidupan para peserta, membantu perekonomian keluarga, dan pada akhirnya turut mendorong peningkatan kesehatan masyarakat desa dan daerah tertinggal secara luas,” kata Kepala Badan Pengembangan Informasi (BPI) Desa dan Daerah Tertinggal Kemendes PDT Mulyadin Malik dalam kegiatan Pembukaan Pelatihan Bahasa Jepang Batch 2 di Kantor Kemendes, Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan, pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan bahasa asing, tetapi juga membuka peluang kerja bagi peserta, termasuk kesempatan bekerja di Jepang.
“Program ini tentu bukan hanya tentang kemampuan berbahasa, tetapi juga bagaimana membuka jalan atau harapan baru bagi masyarakat desa dan daerah tertinggal ketika akses terhadap keterampilan dan informasi kesempatan diperluas,” kata Mulyadin.
Baca juga: PPKPI Pasar Rebo buka perdana seleksi pelatihan bahasa Jepang
Lebih lanjut, Mulyadin menjelaskan, peserta pelatihan nantinya akan memiliki opsi untuk mengikuti pelatihan lanjutan hingga mencapai tahap yang memungkinkan mereka bekerja di Jepang. Dengan demikian, program tersebut diarahkan menjadi jalur peningkatan potensi yang berkelanjutan dengan orientasi hasil yang jelas.
Berikutnya, ia juga menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia di desa sejatinya berpotensi memberikan efek berantai terhadap kualitas hidup masyarakat.
Selanjutnya, dalam kesempatan yang sama, Education Department Head PT Mojo Indonesia Raya Andi Irma Sarjani menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Kemendes PDT dan PT Mojo dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia desa melalui kompetensi bahasa asing.
Pendaftaran pelatihan batch kedua itu dibuka pada 16 Februari hingga 27 Maret lalu dan dilakukan secara daring melalui pemindaian barcode pada materi publikasi, yang terhubung dengan formulir pendaftaran.
Ia menyampaikan bahwa jumlah peserta pada batch kedua itu tercatat mencapai 1.457 orang yang berasal dari 36 provinsi, 288 kabupaten/kota, dan 1.183 desa. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan batch pertama yang hanya diikuti 118 peserta.
"Dalam pelaksanaannya, pelatihan dibagi ke dalam dua tahap, yakni tahap awal yang berfokus pada penguasaan huruf hiragana dan katakana sebagai dasar, serta tahap lanjutan berupa pembelajaran kanji dasar, materi bahasa Jepang tingkat pemula untuk percakapan sehari-hari, dan pengenalan dasar pariwisata," ujar dia.
Setelah menyelesaikan pelatihan daring, peserta memiliki kesempatan untuk melanjutkan pelatihan secara lebih intensif di lembaga pelatihan kerja (LPK) guna meningkatkan kemampuan bahasa Jepang sebagai persiapan bekerja di Jepang.
Baca juga: Sulteng dukung kerja sama pendidikan bahasa mandarin-pelatihan vokasi
Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































