Banda Aceh (ANTARA) - Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi menyatakan bantuan tahap pertama senilai Rp184,9 miliar untuk korban terdampak bencana hidrometeorologi di kabupaten tersebut harus tepat sasaran.
"Penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak bencana menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Penyaluran bantuan tersebut mengedepankan prinsip ketepatan sasaran, transparansi, dan keadilan," kata Sibral Malasyi di Pidie Jaya, Aceh, Kamis.
Bupati menilai langkah Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) yang telah mengusulkan data bantuan ke pemerintah pusat merupakan upaya cepat dan responsif dalam mempercepat pemulihan masyarakat pascabencana.
Namun demikian, Bupati juga meminta seluruh jajaran terkait agar tidak lengah dalam proses verifikasi dan validasi lanjutan yang saat ini sedang berlangsung.
Baca juga: 43 keluarga korban bencana Gampong Geunteng Pidie Jaya masuk huntara
"Data harus benar-benar akurat, jangan sampai ada warga yang berhak justru tertinggal dari daftar penerima. Sebaliknya, tidak boleh ada bantuan yang jatuh kepada pihak yang tidak memenuhi syarat. Semua harus dapat dipertanggungjawabkan," katanya.
Bupati juga menegaskan bantuan kebencanaan seperti bantuan hunian, jaminan hidup, santunan kematian, serta bantuan korban luka berat merupakan hak masyarakat yang harus segera diterima tanpa hambatan administratif yang berlarut.
Oleh karena itu, Sibral Malasyi meminta seluruh proses pendataan dilakukan secara teliti dengan turun langsung ke lapangan agar hasilnya benar-benar sesuai fakta.
Bupati juga mengharapkan proses validasi data di tingkat pusat dapat segera tuntas, sehingga bantuan tahap berikutnya untuk korban bencana bisa secepatnya dicairkan.
"Harapan ini menjadi bagian penting dari upaya percepatan pemulihan kondisi sosial ekonomi masyarakat Pidie Jaya agar kembali bangkit secara menyeluruh," kata Sibral Malasyi.
Baca juga: 151 keluarga penyintas bencana di Pidie Jaya direlokasi ke huntara
Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































