Kemenbud dorong memperkuat seni rupa RI di Venice Biennale 2026

1 month ago 35

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kebudayaan mendorong upaya upaya diplomasi kebudayaan dalam memperkuat posisi seni rupa Indonesia dengan hadirkan Paviliun Indonesia pada Pameran Seni Internasional ke-61 La Biennale di Venesia, Italia atau Venice Biennale 2026.

Dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, pada Jumat, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa partisipasi Indonesia di Venice Biennale 2026 memiliki arti penting bagi penguatan diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat global.

Menurut dia, kehadiran Indonesia tahun ini menjadi momentum penting karena merupakan partisipasi pertama di bawah Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri. Dalam hal ini diyakini budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga fondasi bagi masa depan.

“Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni," ujar Menbud Fadli Zon.

Baca juga: Kunjungi Pantheon, Menbud bidik referensi pengembangan museum RI

Baca juga: Fadli akan percepat Klenteng See Hin Kiong jadi cagar budaya nasional

Paviliun Indonesia ini berlokasi di Scuola Internazionale di Grafica, Cannaregio 1798, Venesia, dengan hari pratinjau pada 7 Mei 2026 dan masa pameran berlangsung pada 9 Mei-22 November 2026.

Mengusung tajuk "Printing the Unprinted", Paviliun Indonesia diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Rl melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, atas dukungan Danantara Indonesia Trust Fund, serta kolaborasi bersama Scuola Internazionale di Grafica, Negeri Elok, Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, dan Venice Art Factory.

Indonesia, kata Menbud Fadli, memiliki salah satu ekosistem budaya paling dinamis di dunia. Bahkan warisan prasejarah Indonesia menunjukkan bahwa kepulauan ini telah lama menjadi salah satu pusat kreativitas tertua umat manusia.

“Dengan kekayaan budaya yang dimiliki, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia, tempat tradisi, imajinasi, dan masa depan bertemu," tutur dia.

Paviliun Indonesia dikuratori oleh Aminudin TH Siregar. Dalam proses kuratorialnya, Scuola Internazionale di Grafica dipilih sebagai lokasi paviliun karena memiliki kedekatan dengan praktik seni grafis, cetak, dan produksi artistik berbasis proses.

Menurut Menbud, dalam tema "Printing the Unprinted" merupakan perayaan atas kekuatan imajinasi yang melampaui batas-batas realitas.

“Melalui karya-karya yang ditampilkan di paviliun ini, para seniman Indonesia menghadirkan narasi-narasi imajinatif yang mengisi ruang-ruang yang belum tercatat, suara-suara yang belum terdengar, ingatan yang terlupakan, dan masa depan yang belum pernah dibayangkan," kata dia.

"Printing the Unprinted" mempertemukan tujuh seniman Indonesia lintas generasi, yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Melalui medium seni cetak grafis atau printmaking, para seniman menghadirkan proses penciptaan sebagai ruang perjumpaan, pertukaran gagasan, serta pembacaan ulang terhadap sejarah, identitas, dan imajinasi Nusantara.

Baca juga: Fadli: Seni ukir Jepara mampu menggerakkan ekonomi berbasis budaya

Baca juga: Fadli Zon: Film mampu menjadi cerminan perjalanan bangsa

Secara konseptual, pameran ini berangkat dari narasi fiksi tentang pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi dari manuskrip imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra.

Selain pameran utama, Paviliun Indonesia juga menghadirkan rangkaian program berupa residensi seniman, diskusi seni, lokakarya, dan simposium.

Seluruh program dirancang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, memperluas jejaring seni Indonesia, serta menghadirkan praktik artistik yang berbasis proses dan kolaborasi.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem talenta seni budaya, Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN) bersama kurator mengajak Negeri Elok untuk melibatkan tujuh talenta Indonesia.

Berkolaborasi dengan tujuh seniman Paviliun Indonesia dalam proses penciptaan dan pertukaran gagasan di Venesia.

Kolaborasi tersebut menggunakan pendekatan art therapy yang menempatkan seni tidak hanya sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai medium untuk membangun empati, merawat memori, meredakan trauma, serta memperkuat ketahanan personal dan kolektif.

"Budaya sumber identitas, nilai, dan imajinasi, sementara ekonomi kreatif menjadi kekuatan yang mengubah budaya menjadi inovasi, peluang, dan pengaruh global. Karena itu, Indonesia terus memperkuat hubungan antara seni, tradisi, dan industri kreatif, mulai dari seni visual, film, musik, sastra, hingga animasi, gim, dan budaya digital," ujar dia.

Melalui pameran "Printing the Unprinted", Paviliun Indonesia tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga menawarkan cara pandang tentang sejarah, imajinasi, dan masa depan kebudayaan.

Baca juga: Pendekatan kolaboratif jadi langkah perkuat ekosistem perfilman

Baca juga: Kemenbud-Dubes Belgia kolaborasi realisasikan repatriasi benda budaya

Baca juga: Menbud perkuat pelestarian situs Borobudur sebagai "living heritage"

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |