Kemdiktisaintek libatkan kampus dan industri dalam pengembangan PLTSa

2 weeks ago 6

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melibatkan perguruan tinggi dan industri dalam rangka mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Pembahasan solusi pengolahan sampah berbasis teknologi melalui skema PLTSa dilakukan bersama perwakilan sejumlah perguruan tinggi luar negeri, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta pihak dari PT Rekayasa Industri (Rekind), dalam rapat pembahasan di kantor Kemdiktisaintek, Selasa (24/2).

"Penting bagi kami adalah bagaimana desainnya berbasis hitungan yang jelas dan terukur, baik dari sisi kapasitas, biaya, maupun keberlanjutannya," kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto melalui keterangan di Jakarta, Kamis.

Menteri Brian menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dan kajian teknis yang komprehensif agar solusi yang dihasilkan tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan.

Ia memandang penguatan peran perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai kunci dalam merumuskan model pengolahan sampah yang terintegrasi, termasuk skema kombinasi antara pengolahan skala mikro di tingkat komunitas dan fasilitas skala lebih besar yang terpusat.

Menurut Brian, pendekatan ini dapat meminimalkan mobilitas sampah, meningkatkan stabilitas bahan bakar turunan sampah atau Refuse Derived Fuel (RDF), serta memperkuat aspek kendali mutu dan dampak lingkungan.

Diketahui, diskusi tersebut merumuskan bahwa sekitar 55 persen timbulan sampah merupakan fraksi organik. Pengolahan di tingkat awal, baik di rumah tangga maupun komunitas, dinilai strategis untuk mengurangi beban pengangkutan dan penumpukan di fasilitas akhir.

Model ini membuka ruang kontribusi perguruan tinggi dalam menyusun perhitungan berbasis data mengenai kapasitas ideal, tipologi wilayah, serta efisiensi logistik, sehingga desain sistem dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.

Selain itu, stabilitas kualitas dan nilai kalor RDF menjadi faktor kunci agar pembangkit dapat beroperasi optimal dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, Kemdiktisaintek mendorong penguatan riset dan inovasi teknologi dalam negeri guna memastikan desain pembangkit, sistem pembakaran, serta pengendalian emisi dirancang sesuai karakteristik RDF nasional.

Baca juga: Mendiktisaintek libatkan mahasiswa KKN tangani sampah di Kota Bandung

Baca juga: Menteri LH: Pembangunan PSEL di 4 aglomerasi berpotensi dimulai Maret

Baca juga: Danantara siapkan tender PLTSa tahap awal di empat daerah

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |