Jakarta (ANTARA) - Kedutaan Besar Republik Islam Iran mengecam keras dan memandang serangan AS dan Israel yang menewaskan 175 siswi di Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran, pada 28 Februari 2026, sebagai kejahatan perang.
"Anak-anak tak berdaya ini, yang hanya hadir di kelas untuk belajar dan membangun masa depan yang cerah, menjadi korban kekerasan akibat serangan rudal," kata Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dalam acara santunan di kediamannya di Jakarta, Sabtu (14/3).
Serangan terhadap sebuah sekolah dasar dan pembunuhan 175 siswi itu merupakan pelanggaran terhadap prinsip pembedaan antara sasaran militer dan non-militer serta merupakan contoh nyata dari kejahatan perang.
"Yang semakin memperjelas kenyataan pahit ini adalah bahwa para pejabat Amerika sendiri juga telah mengakui bahwa serangan tersebut dilakukan oleh mereka," kata Dubes.
"Pengakuan ini menunjukkan tanggung jawab langsung para pelaku tindakan tersebut dan semakin menegaskan pentingnya pertanggungjawaban serta penindakan hukum terhadap kejahatan ini dalam kerangka mekanisme internasional," katanya, menambahkan.
Penargetan sebuah sekolah dan pembunuhan anak-anak tak berdaya itu juga merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional serta kewajiban dari berbagai instrumen internasional yang sah, termasuk Konvensi Jenewa dan aturan perlindungan terhadap warga sipil dalam masa konflik bersenjata.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, warga sipil, terutama anak-anak serta pusat-pusat pendidikan, harus sepenuhnya terlindungi dari serangan militer, kata Dubes Boroujerdi.
Baca juga: Penyelidikan awal sebut rudal AS penyebab serangan di SD Iran
Dia lebih lanjut mengatakan penargetan wilayah Iran dan serangan terhadap kawasan sipil tidak hanya melanggar kedaulatan nasional sebuah negara merdeka, tetapi juga pukulan nyata terhadap prinsip penyelesaian damai sengketa dalam sistem internasional.
Terlebih, serangan itu dilakukan saat Iran tengah menempuh jalur diplomasi, dialog, dan perundingan untuk mencapai solusi damai serta memperkuat perdamaian dan stabilitas kawasan.
Di tengah serangan AS dan Israel yang terus berlanjut terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, Kedutaan Besar Iran menyerukan kepada masyarakat internasional, termasuk Indonesia, organisasi-organisasi Islam yang aktif, lembaga HAM internasional, serta organisasi-organisasi pembela hak anak untuk tidak berdiam diri terhadap kejahatan semacam itu.
"Dengan mengecam secara tegas tindakan tersebut, diharapkan mereka mengambil langkah untuk mengungkap kebenaran, menuntut pertanggungjawaban para pelaku, serta mencegah terulangnya tragedi serupa," kata Dubes.
Dia menekankan bahwa perlindungan terhadap kehidupan anak-anak dan warga sipil merupakan tanggung jawab bersama seluruh negara dan bangsa di dunia.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan serta merenggut ratusan nyawa di kalangan warga sipil, termasuk menyerang Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, sehingga menewaskan 175 siswi dan melukai lebih dari 95 anak di sekolah itu.
Baca juga: Iran jadikan Sekolah Putri korban bom AS-Israel monumen peringatan
Pewarta: Katriana
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































