Jakarta (ANTARA) - Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menegaskan bahwa Gereja Katolik menempatkan perdamaian dunia sebagai prioritas utama, sejalan dengan arah kepemimpinan Paus Leo XIV, menanggapi situasi yang terjadi di Timur Tengah.
Menurut Kardinal Suharyo, pesan perdamaian telah disampaikan Paus sejak awal kepemimpinannya, yakni ketika pertama kali tampil di mimbar Basilika Santo Petrus dengan mengucapkan doa agar damai Tuhan menyertai seluruh dunia.
“Itu artinya, beliau sungguh-sungguh ingin menyatakan bahwa masa kepemimpinan pelayanan sebagai Paus akan mengusahakan perdamaian,” ujar Kardinal Suharyo setelah memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral Jakarta, Minggu.
Baca juga: Kardinal Suharyo: Paskah simbol perjalanan menuju terang
Dalam konteks konflik global saat ini, kata dia, Paus menyampaikan pernyataan tegas bahwa doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan.
“Bahkan, dengan kata-kata yang sangat keras mengenai perang, beliau mengatakan doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan. Kata-kata keras sekali,” kata Kardinal.
Ia menilai perang yang terjadi saat ini merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan nilai-nilai yang dijunjung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dampaknya, kata dia, tidak hanya merusak dunia, tetapi juga menimbulkan penderitaan besar bagi umat manusia.
“Yang ada adalah akibat yang sangat buruk, bukan hanya bagi dunia, bagi bumi, tetapi bagi umat manusia,” katanya.
Ia menambahkan Paus mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk terus mendoakan perdamaian setiap hari, meskipun harapan agar konflik berakhir sebelum Paskah belum terwujud.
Dalam refleksinya, Kardinal Suharyo menyebut di tengah situasi global yang diwarnai “kegelapan”, masih ada harapan yang diibaratkan sebagai cahaya kecil yang tetap menerangi kemanusiaan.
Selain isu perdamaian, ia juga menyoroti pentingnya kesadaran akan “ekologi integral”, yakni cara pandang menyeluruh terhadap lingkungan hidup yang tidak hanya mencakup aspek teknis, seperti energi, air, dan sampah, tetapi juga menyangkut moralitas manusia.
Baca juga: Prosesi Jalan Salib Katedral Jakarta ajak umat kembali ke Tuhan
Baca juga: Katedral Jakarta ajak umat cinta wastra Nusantara pada perayaan Paskah
Menurut dia, kerusakan lingkungan tidak terlepas dari sikap serakah yang mengabaikan solidaritas terhadap sesama.
“Selama keserakahan masih dominan, apalagi didukung kekuatan yang merusak, maka kerusakan akan terus terjadi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pertobatan ekologis harus dimulai dari perubahan hati nurani, bukan sekadar tindakan lahiriah. Kardinal Suharyo juga mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup sederhana sebagai bentuk pengendalian diri, yakni hidup secukupnya tanpa berlebihan.
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































