Kunming, China (ANTARA) - Lebih dari 600 tahun silam, Zheng He --yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Laksamana Cheng Ho-- memimpin tujuh pelayaran melintasi samudra pada masa Dinasti Ming.
Cheng Ho mengomandoi armada besar yang mengarungi lebih dari 30 negara dan wilayah di Asia dan Afrika, termasuk kawasan yang kini menjadi bagian dari Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Kini, kampung halaman Cheng Ho di pesisir selatan Danau Dianchi, Kunming, Provinsi Yunnan, China barat daya, menjadi destinasi wisata sejarah yang mengisahkan jalinan persahaban lebih dari enam abad lamanya dari titik yang memiliki hubungan erat dengan salah satu pelayaran maritim paling luar biasa di dunia.
Kampung halaman Cheng Ho terletak di Distrik Jinning, yang secara konsisten terus melestarikan warisan sejarahnya sembari memanfaatkan budaya untuk menjalin hubungan baru antara orang-orang dari berbagai negara.
Dalam pelayaran tersebut, armada Cheng Ho membawa beragam komoditas khas China seperti porselen dan teh, sembari melakukan pertukaran pengetahuan pertanian, kerajinan tangan, serta kebudayaan dengan masyarakat di sepanjang jalur pelayaran tersebut. Perjalanan monumental ini meninggalkan warisan berupa pertukaran damai dan saling pengertian.
Kini, semangat tersebut terus bergelora di Jinning, dengan kampung halaman Cheng Ho tersebut telah bertransformasi menjadi destinasi budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Tim balap sepeda profesional CCEC International Cycling Team tengah menyambangi pameran peringatan Laksamana Cheng Ho di Provinsi Yunnan, China barat daya, pada 18 Februari 2025. ANTARA/XINHUA
Di Taman Cheng Ho, sejumlah landmark termasuk Balai Peringatan Cheng Ho, Menara Sanbao, dan Hutan Prasasti Cheng Ho terus melestarikan kenangan sang pelaut legendaris tersebut. Situs ini memberikan gambaran sekilas kepada pengunjung tentang kehidupan Cheng Ho dan sejarah pertukaran maritim.
Dalam beberapa tahun terakhir, museum-museum tersebut telah menyambut kedatangan para pengunjung dari 20 lebih negara dan kawasan, menyediakan platform bagi masyarakat di seluruh dunia untuk mengenal kisah Zheng He dan kebudayaan maritim China.
Guna mendekatkan kebudayaan tradisional dengan kehidupan modern, Jinning terus mengeksplorasi cara-cara baru untuk memadukan kebudayaan Cheng Ho dengan sektor pariwisata dan industri kreatif.
Delegasi firma konsultasi dan bisnis pelayaran Belanda, Bietan Tourism & Business Consulting, tengah mengunjungi pameran peringatan Laksamana Cheng Ho di Provinsi Yunnan, China barat daya, pada 8 April 2025. ANTARA/XINHUA Di sepanjang pesisir Danau Dianchi, distrik tersebut telah mengembangkan jajaran produk budaya bertema Cheng Ho dan meluncurkan pasar-pasar budaya yang menampilkan kebudayaan maritim, pengalaman warisan budaya takbenda, kuliner lokal, dan pemandangan tepi danau. Para pengunjung dapat menikmati pesona alam danau sembari menemukan kisah-kisah yang berkaitan dengan jalur maritim kuno.
Jinning juga gencar mempromosikan penelitian akademis dan pertukaran budaya internasional terkait Zheng He. Melalui berbagai pameran, platform daring, dan kegiatan budaya, distrik tersebut terus memperkenalkan warisan sejarah Cheng Ho kepada khalayak global yang lebih luas.
Di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, nama Laksamana Cheng Ho tetap familiar, dengan banyak komunitas yang terus merawat kenangan akan pelayaran dan pertukaran budayanya. Perjalanan bersejarahnya telah menjadi simbol keterikatan erat yang terjalin sejak lama antara China dan Asia Tenggara.
Foto monumen patung Laksamana Cheng Ho di Provinsi Yunnan, China barat daya. ANTARA/XINHUA Dalam gelaran Festival Kebudayaan dan Pariwisata Cheng Ho Kunming 2026 di Jinning, para tamu dari berbagai bidang berkumpul di kampung halaman Cheng Ho tersebut untuk mengeksplorasi kebudayaan maritim serta mempromosikan dialog antarbudaya. Pameran bertema yang diselenggarakan bersama Museum Budaya Laksamana Cheng Ho di Malaka, Malaysia, semakin menegaskan pertukaran antarbudaya yang beragam.
Kini, Jinning memadukan warisan budayanya dengan sumber daya ekologis di sekitar Danau Dianchi untuk mengembangkan pariwisata pedesaan, penginapan (homestay) dan pengalaman budaya.
Dari pesisir Danau Dianchi hingga ke perairan Asia Tenggara, "layar keharmonisan" yang terilhami oleh pelayaran Laksamana Cheng Ho terus melaju ke depan, membawa kisah-kisah persahabatan, saling pengertian, serta pertukaran budaya antarperadaban.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































