Kampanye solidaritas "Satu Darah, Darah Indonesia"

5 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Pagi, selepas Idul Fitri, di Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Utara menghadirkan pemandangan yang tak lazim: antrean panjang warga yang menunggu giliran mendonorkan darah. Di tengah suasana Lebaran yang identik dengan perayaan, terselip praktik sunyi tentang memberi, sebuah bentuk solidaritas yang bekerja tanpa sorotan di unit-unit PMI.

Setelah mendaftar dalam sistem komputer, pemeriksaan pendonor dimulai dengan menanyakan kondisi tubuh, yakni cukup tidur, tidak begadang, minum banyak air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi, seperti buah-buahan. Pemeriksaan lanjutan dilakukan dengan alat: mengukur denyut nadi, tekanan darah, dan kadar hemoglobin. Bagi mereka yang lolos, darah kemudian diambil dan diperiksa di laboratorium.

Prosesnya singkat. Umumnya berdurasi sekitar 15 sampai 30 menit, dari awal pendaftaran hingga pengambilan darah, yang menghasilkan sekitar 300 hingga 450 ml darah. Ada empat jenis donor: darah lengkap, trombosit, plasma, dan sel darah merah. Hal yang paling umum dilakukan adalah donor darah lengkap. Setelah selesai, para pendonor pulang dengan mendapatkan paket standar berupa vitamin, makanan, dan minuman ringan.

Di balik praktik yang tampak sederhana itu, tersimpan persoalan yang lebih kompleks. Pada saat terjadi kelangkaan darah, antrean donor kerap didorong oleh pemberian insentif sembako. Tanpa insentif, jumlah pendonor biasanya tidak meningkat secara signifikan. Di titik ini, donor darah mulai bergeser dari tindakan sukarela menuju respons terhadap kebutuhan material.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat dan Kanada, antrean terbentuk bukan oleh sembako, tetapi oleh imbalan uang khusus untuk donor plasma. Laporan The New York Times (11/03/2026) menunjukkan bahwa para donor, kini, bukan semata kelompok paling miskin, melainkan pekerja kelas menengah, yakni guru, teknisi, bahkan pensiunan, yang pendapatannya tak lagi cukup menutup kebutuhan hidup.

Imbalan yang ditawarkan pun konkret: 40 dolar Kanada untuk donor pertama dan 75 dolar untuk kehadiran kedua. Dalam praktiknya, donor plasma menjadi aktivitas rutin dengan insentif mingguan. Hanya saja, konsekuensinya tidak sepenuhnya ringan: tercatat dua kasus kematian pada Oktober 2025 dan Januari 2026 di Kanada.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |