Iran tuntut AS bayar kompensasi dan tarik pasukan dari Teluk Persia

1 hour ago 3

Teheran (ANTARA) - Iran menuntut agar Amerika Serikat memberikan kompensasi atas kerusakan dan menarik diri dari kawasan Teluk Persia untuk mengakhiri konflik, kata anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, Mohsen Rezaei, pada Sabtu.

"Kami hanya akan mempertimbangkan untuk mengakhiri perang jika, pertama, kami menerima kompensasi dari AS untuk semua kerusakan, dan kedua, kami mendapatkan jaminan keamanan 100 persen di masa depan, yang mustahil tanpa penarikan AS dari kawasan Teluk Persia. Dengan demikian, syarat kedua adalah penarikan AS dari Teluk Persia," katanya kepada stasiun televisi Iran SNN.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, Kamis (12/3), menyerukan kepada negara-negara Timur Tengah untuk menutup pangkalan AS di wilayah mereka dan menuntut ganti rugi.

Sebelumnya pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran menanggapi serangan brutal itu dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

AS dan Israel awalnya mengklaim serangan "preemptif" mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang dirasakan dari program nuklir Iran, tetapi mereka segera memperjelas bahwa mereka ingin melihat penggantian kekuasaan di Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama operasi militer AS-Israel, sehingga pemerintahan Republik Islam Iran menyatakan 40 hari masa berkabung.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: Trump: Konflik AS dengan Iran akan berlangsung selama masih diperlukan

Baca juga: Kedubes Iran santuni 200 siswi RI, kenang syahidnya 175 siswi Iran

Baca juga: China beri bantuan 200.000 dolar AS untuk korban konflik di Iran

Penerjemah: M Razi Rahman
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |