London (ANTARA) - Pemerintah Inggris telah menyetujui perluasan akses AS ke pangkalan-pangkalan Inggris untuk operasi yang menargetkan kemampuan rudal Iran yang mengancam pelayaran di Selat Hormuz, menurut pernyataan Downing Street.
Pernyataan pemerintah mengatakan bahwa dalam pertemuan Jumat (20/3), para menteri Kabinet "mengonfirmasi bahwa kesepakatan bagi AS untuk menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris dalam pertahanan diri kolektif kawasan tersebut mencakup operasi pertahanan AS untuk menurunkan kemampuan dan situs rudal yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz."
Pemerintah menekankan bahwa "prinsip-prinsip di balik pendekatan Inggris terhadap konflik tetap sama" dan menyerukan "de-eskalasi yang mendesak dan penyelesaian perang yang cepat."
Para menteri Kabinet "mengutuk perluasan target Iran hingga mencakup pelayaran internasional."
"Mereka sepakat bahwa serangan sembrono Iran, termasuk terhadap kapal-kapal Red Ensign (British Shipping Registers) dan kapal-kapal sekutu dekat dan mitra Teluk kita, berisiko mendorong kawasan tersebut lebih jauh ke dalam krisis dan memperburuk dampak ekonomi yang dirasakan di Inggris dan di seluruh dunia."
Dalam tulisannya di akun media sosial X, pemimpin oposisi Konservatif Kemi Badenoch menyebut keputusan itu sebagai "perubahan haluan terbesar sepanjang masa."
Sejak serangan intensif AS-Israel dimulai pada 28 Februari, Inggris telah beralih dari penolakan awal terhadap akses ke pangkalan ke keadaan integrasi logistik dan kinetik yang mendalam.
"Meskipun mengambil tindakan yang diperlukan untuk membela diri dan sekutu kami, kami tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas," kata Perdana Menteri Inggris Starmer pada Senin, menambahkan bahwa pemerintah Inggris akan terus berupaya mengakhiri pertempuran.
Namun, peran Inggris yang semakin meluas dalam konflik tersebut telah memicu perdebatan yang berkembang tentang apakah perbedaan tersebut semakin sulit untuk dipertahankan.
Permusuhan regional di Timur Tengah telah meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Iran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal di seluruh wilayah tersebut dan secara efektif menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal.
Selat Hormuz merupakan sebuah jalur transit minyak utama yang biasanya menangani sekitar 20 juta barel per hari dan sekitar 20 persen dari perdagangan gas alam cair global.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Trump katakan dia tidak ingin gencatan senjata di Iran
Baca juga: Sekjen Dewan Mendagri Arab kecam serangan Iran, soroti risiko regional
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































