Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Indonesia Japan Business Network (IJBNet) Dr. Suyoto Rais mengatakan pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berpotensi menjadi salah satu ladang bisnis baru dalam penguatan kemitraan ekonomi Indonesia dan Jepang, seiring meningkatnya kebutuhan industri penerbangan global terhadap bahan bakar yang lebih berkelanjutan.
“Indonesia memiliki sumber daya, pasar dan talenta yang besar. Jepang memiliki teknologi, pengalaman industri dan jaringan bisnis yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana kedua kekuatan tersebut dipertemukan dalam bentuk kerja sama yang nyata dan berkelanjutan,” kata Suyoto dalam keterangan yang diterima, Rabu.
IJBNet menilai pengembangan bahan baku SAF menjadi salah satu isu penting di tengah tuntutan dunia terhadap industri penerbangan yang lebih berkelanjutan.
Peluang tersebut menjadi salah satu isu yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, lembaga penelitian dan mitra Jepang untuk mendorong kerja sama di berbagai sektor industri dan membahas potensi pengembangan bahan baku serta rantai pasok SAF.
Menurut Suyoto, hubungan Indonesia dan Jepang memiliki potensi yang sangat besar. Kedua negara memiliki kebutuhan dan kekuatan yang dapat saling melengkapi, mulai dari industri, teknologi, investasi, energi, lingkungan hingga sumber daya manusia.
Dalam forum IJBNet, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Tri Supondy mengatakan perubahan lanskap industri global, termasuk tuntutan dekarbonisasi dan transisi menuju energi yang lebih bersih, menciptakan kebutuhan terhadap kolaborasi antarnegara.
“Kemitraan Indonesia dan Jepang memiliki sejarah panjang dan terus berkembang. Ke depan, kerja sama tersebut harus semakin diarahkan pada peningkatan investasi, penguatan teknologi, peningkatan daya saing industri dan pengembangan sumber daya manusia,” ujar Tri.
Tri mengatakan dalam konteks pengembangan SAF, kerja sama Indonesia-Jepang dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari pengembangan bahan baku, teknologi pengolahan hingga pembangunan rantai pasok yang mendukung produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Pengembangan SAF juga dinilai membuka ruang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri baru yang memiliki keterkaitan dengan sektor energi, pertanian, teknologi dan penerbangan.
“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian dan mitra internasional menjadi semakin penting. Indonesia membutuhkan mitra strategis yang dapat bersama-sama membangun industri yang kuat, inovatif dan berkelanjutan,” katanya.
Dari sisi Jepang, Kuasa Usaha ad interim Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Myochin Mitsuru mengatakan hubungan kedua negara telah berkembang melampaui kerja sama perdagangan konvensional.
Baca juga: IJB-Net siap tingkatkan kolaborasi bisnis Indonesia-Jepang
“Hubungan Indonesia dan Jepang memiliki fondasi yang sangat kuat dan telah berkembang dalam berbagai bidang. Kerja sama ekonomi, industri, teknologi, investasi dan sumber daya manusia membuka banyak peluang baru bagi kedua negara,” ujar Myochin.
Selain SAF, sejumlah perusahaan dan organisasi Jepang yang hadir dalam forum IJBNet memperkenalkan peluang kerja sama di sektor green power, renewable energy, environmental technology, space technology, business development dan pengembangan sumber daya manusia.
Hal tersebut menunjukkan bahwa agenda dekarbonisasi mulai membuka ruang kerja sama ekonomi yang lebih luas antara Indonesia dan Jepang. Transisi menuju industri rendah karbon tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan investasi dan rantai nilai baru.
IJBNet menilai pengembangan kerja sama Indonesia-Jepang ke depan perlu diarahkan pada pembentukan ekosistem industri yang menghubungkan pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian dan tenaga kerja.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan SAF dan sektor industri hijau lainnya diharapkan tidak berhenti pada kerja sama teknologi, tetapi dapat berkembang menjadi investasi dan aktivitas bisnis yang memberikan nilai tambah bagi industri Indonesia.
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































