IHSG menguat di tengah "wait and see" tinjauan MSCI periode Agustus

1 week ago 8
IHSG berpeluang kembali menguji 6.377, dengan breakout level tersebut membuka ruang penguatan menuju 6.463-6.500. Sebaliknya, pelemahan di bawah 6.264 berisiko membawa IHSG menguji 6.233, kemudian 6.186 dan 6.106

Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu bergerak menguat di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap tinjauan MSCI Inc. untuk saham-saham global, termasuk saham Indonesia periode Agustus 2026.

IHSG dibuka menguat 9,88 poin atau 0,16 persen ke posisi 6.277,76. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,12 poin atau 0,18 persen ke posisi 626,91.

“IHSG berpeluang kembali menguji 6.377, dengan breakout level tersebut membuka ruang penguatan menuju 6.463-6.500. Sebaliknya, pelemahan di bawah 6.264 berisiko membawa IHSG menguji 6.233, kemudian 6.186 dan 6.106,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan pengumuman Tinjauan Indeks oleh MSCI yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 23.00 waktu Central European Summer Time (CEST), atau pada 13 Agustus 2026 sekitar pukul 04.00 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Pelaku pasar juga berharap langkah yang dilakukan oleh regulator atas reformasi pasar modal domestik, memberikan peluang bagi MSCI untuk segera mencabut status pembekuan (freeze) saham Indonesia dalam Tinjauan Indeks Agustus 2026.

Selain itu, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan terbaru calon definitif Gubernur Bank Indonesia (BI), seiring pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI yang dinilai positif karena memberikan kepastian dan menjaga kesinambungan kebijakan moneter setelah pengunduran diri Perry Warjiyo.

Baca juga: IHSG Rabu dibuka menguat 9,88 poin ke posisi 6.277

Baca juga: IHSG ditutup melemah ke 6.267, pasar tunggu tinjauan MSCI di Agustus

Sementara, penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 mencapai Rp1.209,6 triliun atau 51,31 persen dari target APBN, tumbuh 22,17 persen year on year (yoy) dari sebelumnya Rp990,01 triliun.

Namun demikian, pemerintah masih menghadapi potensi shortfall Rp46,9 triliun, dengan outlook penerimaan 2026 sebesar Rp2.310,8 triliun atau sekitar 98 persen dari target.

Di sisi lain,pemerintah terus memperkuat regulasi dan insentif untuk mendorong investasi swasta di sektor EBT, termasuk melalui Perpres 112/2022 dan Permen ESDM 19/2025, serta fasilitas perpajakan, impor, dan perizinan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung target pengembangan PLTS hingga 100 GW.

Dari mancanegara, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran kembali meningkat setelah Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka hingga tuntutannya dipenuhi. Lalu lintas kapal melalui selat tersebut menurun tajam, yang meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

Sementara itu, upaya diplomatik melalui Oman dan Qatar masih berlangsung dan disebut telah memasuki tahap penting.

Di sisi lain, pelaku pasar menantikan data Consumer Price Index (CPI) AS periode Juli 2026 yang menjadi penentu penting bagi ekspektasi kebijakan The Fed setelah pasar mulai terpecah mengenai peluang kenaikan suku bunga 25 bps pada September 2026.

Data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi memperkuat ekspektasi pengetatan, sementara inflasi yang lebih rendah dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan. Selain itu, pelaku pasar akan mencermati data Producer Price Index (PPI) sebagai konfirmasi lanjutan arah tekanan harga.

Sementara itu, harga energi kembali menguat di tengah ketidakpastian pembukaan Selat Hormuz, minyak jenis Brent naik 1,72 persen ke sekitar 89 dolar AS per barel dan WTI naik 1,30 persen ke atas 83 dolar AS per barel.

Kemudian, harga batu bara termal naik 0,23 persen ke 129,3 dolar AS per ton, harga emas turun 0,52 persen ke 4.368 dolar AS per ons akibat aksi ambil untung, harga tembaga naik 0,3 persen ke atas 6,6 dolar AS per lb, harga timah naik 0,40 persen ke 55.752 dolar AS per ton, sedangkan nikel turun 0,74 persen ke 16.820 dolar AS per ton akibat ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia.

Bursa saham Eropa bergerak variatif pada Selasa (11/08), di antaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,01 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,17 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,30 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menurun 0,1 persen.

Sementara bursa Wall Street AS kompak melemah pada Selasa (11/08), di antaranya indeks S&P 500 melemah 0,40 persen ke level 7.725,76, indeks Nasdaq Composite melemah 0,60 persen ke 26.445,45, serta Dow Jones Industrial Average melemah 0,30 persen ke 53.791,97.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 0,13 persen ke 67.055,00, indeks Shanghai menguat 0,08 persen ke 3.937,4, indeks Kospi menguat 3,52 persen ke 6.568,41, indeks Hang Seng melemah 1,15 persen ke 25.328,81, dan indeks Straits Times menguat 0,36 persen ke 5,733,26.

Baca juga: Bos BEI sebut kewenangan sepenuhnya di MSCI jelang review 12 Agustus

Baca juga: IHSG Selasa dibuka menguat 18,44 poin ke posisi 6.383

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |