Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa bergerak melemah di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
IHSG dibuka melemah 0,03 poin atau 0,00 persen ke posisi 6.599,21. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,60 poin atau 0,09 persen ke posisi 650,49.
"Diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.400- 6.700," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah mendorong munculnya perkiraan bahwa Bank Indonesia (BI) berpeluang menaikkan BI-Rate pada pertemuan Selasa (18/05) dan Rabu (19/05).
Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi bahwa nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS akan menguat mulai Juli 2026, yang mana berdasarkan historis Rupiah cenderung melemah pada April hingga Juni karena adanya kenaikan permintaan dolar AS pada bulan tersebut.
Apabila BI-Rate dinaikkan dalam rangka untuk meredam depresiasi Rupiah lebih lanjut, maka dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik investasi domestik bagi investor asing. Diharapkan yield instrumen investasi di domestik menjadi lebih menarik.
Baca juga: IHSG Selasa dibuka melemah 0,03 poin
Baca juga: IHSG ditutup melemah dipicu sikap investor beralih ke aset aman
Namun demikian, kenaikan suku bunga dapat berdampak terhadap kenaikan biaya pinjaman yang dapat mendorong peningkatan beban bunga perusahaan dan mengurangi daya beli masyarakat.
Dari mancanegara, Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah melakukan perubahan terhadap proposal masing-masing untuk mengakhiri perang, namun masih tetap jauh berbeda pendapat.
Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Iran pada Selasa (19/05).
Kekhawatiran mengenai gejolak energi yang berkepanjangan dapat menyebabkan peningkatan inflasi, sehingga dapat mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga.
Dengan demikian, yield obligasi pemerintah beberapa negara cenderung naik.
Selain memberikan tekanan pada rumah tangga dan pemerintah melalui biaya pinjaman yang lebih tinggi, imbal hasil obligasi yang tinggi juga dapat berdampak terhadap laba perusahaan di masa depan, yang berpotensi mengubah valuasi saham.
Harga minyak menguat lebih dari 2 persen meskipun Trump menunda serangan ke Iran. U.S. 10-year Bond Yield naik kurang dari 1 bps ke level 4.601 persen, setelah sebelumnya menguat pada level tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Harga emas spot menguat 0,2 persen di level 4,548 dolar AS per troy ons, seiring pelemahan dolar AS.
Pada perdagangan Senin (18/05) kemarin, bursa saham Eropa kompak menguat, diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,58 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 1,26 persen, indeks DAX Jerman menguat 1,49 persen, serta indeks CAC Prancis menguat 0,44 persen.
Sementara itu, bursa AS di Wall Street bergerak variatif pada Senin (18/05), diantaranya indeks S&P 500 melemah 0,07 persen ke 7.403,05, indeks Nasdaq melemah 0,45 persen ke 28.994,37, dan indeks Dow Jones menguat 0,32 persen ke 49.686,12.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 290,95 poin atau 0,48 persen ke 60.524,00 indeks Shanghai menguat 7,72 poin atau 0,19 persen ke 4.167,89, indeks Hang Seng melemah 10,65 poin atau 0,26 persen ke 4.120,88, dan indeks Strait Times menguat 29,90 poin atau 0,60 persen ke 5.026,65.
Baca juga: BEI imbau investor atur strategi di tengah koreksi IHSG
Baca juga: Menkeu Purbaya: Fondasi ekonomi RI kuat di tengah IHSG melemah
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































