IESR: Jaringan transmisi harus diperhatikan dalam pembangunan PLTS

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan PT PLN (Persero) harus memperhatikan jaringan transmisi listriknya untuk memastikan program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berdaya 100 gigawatt (GW) berjalan dengan lancar.

"Kalau di sistem PLN, maka salah satu yang harus dipertimbangkan itu adalah jaringan listriknya," kata Febby saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurut dia, program PLTS 100 GW dari pemerintah merupakan hal yang positif, karena PLTS merupakan energi baru terbarukan.

Namun, kata Febby, tidak kalah penting bagi PLN harus memastikan bahwa jaringan transmisi yang dimiliki dapat menyuplai dan memberikan dukungan terhadap program pemerintah tersebut.

Ia menilai bahwa jaringan listrik yang dimiliki PLN saat ini belum didesain untuk menerima pembangkit variable renewable energy skala besar yang masuk pada waktu yang bersamaan.

"Jadi, memang jaringan PLN ini harus diperkuat, sehingga mampu untuk menerima masuknya PLTS," ujarnya.

Febby mengatakan sistem jaringan PLN itu tidak hanya digunakan oleh salah satu pembangkit listrik, karena saat ini ada sejumlah pembangkit listrik yang masuk untuk memasok kebutuhan energi di negeri ini.

Menurut dia, antarapembangkit satu dengan lainnya memiliki karakter yang berbeda, sehingga PLN harus mempersiapkan sistem jaringan agar dapat menerima PLTS yang berskala besar.

"Kalau di sistem PLN tidak hanya berbicara untuk pembangkit yang dikerjakan oleh PLN. Tapi, juga ada pembangkit-pembangkit lain, misalnya pembangkit listrik tenaga surya atap, PLTS atap ini mempunyai karakteristik sendiri. Untuk itu, jaringan PLN itu bukan saja kapasitas transmisinya, tapi kemampuan untuk mengelola dari pembangkit listrik baru terbarukan," katanya menambahkan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pemerintah akan membangun PLTS 100 GW dalam waktu dua tahun.

PLTS menjadi salah satu cara Indonesia membangun kemandirian energi sekaligus mengurangi emisi karbon.

"Kita dibicarakan di dunia. Satu, kita dibicarakan kenapa? Kita leading (memimpin) dalam mengurangi emisi karbon. Kita leading. Mereka tahu kita punya program B50, tadi emisi kita hemat 44 juta karbon dioksida ekuivalen, kita kurangi. (Itu) baru B50. Kita juga sudah diketahui, oleh pemimpin dunia kita diketahui, kita akan bangun 100 gigawatt tenaga surya," kata Presiden dalam acara peluncuran mandatori B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Baca juga: AESI siap dukung percepatan pembangunan PLTS nasional

Baca juga: Airlangga: RI prioritaskan transformasi industri berbasis tenaga surya

Baca juga: Wamen ESDM sebut sudah identifikasi lahan untuk PLTS 30 GW

Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |