IEEFA: Sudah saatnya Indonesia berperan lebih dalam industri otomotif

1 week ago 6

Jakarta (ANTARA) - Analis energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Putra Adhiguna mengatakan bahwa sudah saatnya Indonesia menjadi juara dalam industri manufaktur terutama pada sektor otomotif.

“Indonesia sudah terlalu lama tidak memiliki champion di dalam sektor manufakturing yang benar-benar berasal dari dalam negeri, sehingga sudah waktunya kita memiliki peran lebih di dalam produksi baik kendaraan mobil maupun motor,” ujar Putra saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Jumat.

Ia mencontohkan India yang telah memegang pangsa pasar domestik yang kuat berkat bisnis kerja sama gabungan atau joint venture yakni Maruti Suzuki.

Ia menambahkan bahwa produksi mobil atau motor listrik nasional diharapkan bisa memanfaatkan listrik sebagai penggerak utama karena Indonesia masih menjadi negara yang mengimpor minyak.

“Dan ke depannya cara paling penting untuk menggeser itu adalah menggunakan kendaraan listrik,” katanya lagi.

Baca juga: Mendag dorong industri otomotif maksimalkan perjanjian dagang

Terkait infrastruktur, menurutnya hal pertama yang patut disoroti adalah keseriusan pemerintah dalam memberikan dukungan yang stabil dan berkelanjutan pada jangka waktu panjang,

“Pemerintah juga tetap harus bisa memberikan ruang untuk berpartner dengan perusahaan yang mungkin tidak dari Indonesia,” katanya lagi.

Keberadaan negara lain dalam pembangunan industri tersebut diharapkan mampu mendukung dari sisi riset dan pengembangan.

Menyoal infrastruktur, ia mengatakan bahwa infrastruktur stasiun pengisian baterai kendaraan listrik perlu diperbanyak, tak hanya berfokus di kota besar saja.

“Jadi harapannya lagi-lagi mobil maupun motor listrik nasional penting didorong, tetapi juga penting untuk berpartner, bermitra dengan negara atau produsen lain. Dan juga kedua, penting untuk tidak menggunakan BBM, karena hanya akan memperpanjang defisit impor Indonesia ke depannya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan akan mempercepat proses elektrifikasi mobilitas rakyat dalam penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Kebangkitan DFSK di industri otomotif Tanah Air melalui E5 Plus

“Kita akan percepat proses elektrifikasi mobilitas rakyat.

Subsidi BBM harus kita kurangi secara signifikan. Untuk itu, Pemerintah yang saya pimpin kemarin telah meluncurkan ekosistem motor listrik nasional,” katanya.

Selain itu, ia juga mengumumkan akan berikan insentif untuk satu juta motor listrik yang diproduksi di dalam negeri oleh pengusaha Indonesia.

“Kebijakan ini mempunyai tiga tujuan sekaligus: menurunkan biaya kendaraan bagi rakyat, mengurangi konsumsi bahan bakar impor, dan membesarkan industri motor listrik nasional beserta rantai pasok baterai, komponen, perangkat lunak, serta layanan purnajualnya.

Insentif ini adalah investasi untuk menjadikan rakyat Indonesia pasar pertama bagi karya anak Indonesia,” ujarnya lagi.

Menurutnya, kehadiran motor listrik buatan Indonesia yang melaju di jalan raya merupakan tiga kemenangan sekaligus yakni penghematan bagi keluarga, pengurangan impor energi, dan pekerjaan bagi anak bangsa.

Baca juga: Ekonom proyeksikan pangsa NEV capai 31,7 persen penjualan mobil 2026

Baca juga: Bulan kemerdekaan jadi momen penting bagi pertumbuhan otomotif RI

Baca juga: Menperin berharap GIIAS jadi penggerak penjualan kendaraan di RI

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |