Jakarta (ANTARA) - Sebutan “anak online” atau “anak daring” biasanya disematkan kepada bayi-bayi manusia yang tumbuh besar dengan perkembangan mereka disaksikan warganet melalui layar ponsel. Namun, anak online yang kini menjadi perhatian adalah seekor anak gajah bernama Domang, yang lahir pada 2 Desember 2021 di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Melalui media sosial Balai Taman Nasional Tesso Nilo, warganet menyaksikan tumbuh kembang Domang, si anak gajah, dengan segala tingkah lucunya. Ia pun menjelma menjadi salah satu “selebriti gajah online” yang paling dikenal di Nusantara.
Ketenaran Domang turut meningkatkan perhatian masyarakat terhadap salah satu satwa dilindungi Indonesia yang kini berada dalam kondisi terancam punah, yakni gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan gajah Kalimantan, yang merupakan subspesies dari gajah Asia (Elephas maximus).
Semua spesies gajah di Indonesia kini masuk dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam kategori terancam menuju kepunahan di alam liar.
Menurut data Kementerian Kehutanan (Kemenhut), saat ini tersisa sekitar 21 kantong gajah di Pulau Sumatera, dengan populasi sekitar 1.100 ekor per Juli 2026. Angka tersebut turun drastis dari 42 kantong dengan estimasi populasi 2.400–2.800 ekor pada 2007.
Sementara itu, di Pulau Kalimantan diperkirakan terdapat 30–80 ekor gajah yang tercatat berada di wilayah Indonesia.
Melihat fakta tersebut, Hari Gajah Sedunia 2026, yang diperingati setiap 12 Agustus, dapat menjadi momentum untuk meningkatkan upaya penyelamatan sekaligus populasi mamalia terbesar di Indonesia tersebut.
Sejumlah faktor masih menjadi ancaman bagi “petani hutan” ini, mulai dari menyempitnya ruang jelajah akibat konversi hutan menjadi perkebunan sawit hingga pembangunan jalan raya dan permukiman yang tidak mempertimbangkan jalur jelajah gajah.
Baca juga: Kemenhut umumkan kelahiran anak gajah di TN Tesso Nilo
Ekspansi pembangunan besar-besaran tanpa perencanaan yang mempertimbangkan keberlanjutan populasi gajah menimbulkan persoalan baru. Fragmentasi habitat membuat populasi gajah terpisah satu sama lain karena jalur jelajah mereka berubah menjadi perkebunan, permukiman warga, bahkan jalan tol. Kondisi ini sekaligus meningkatkan potensi terjadinya interaksi negatif antara manusia dan gajah.
Ketika populasi terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil, risiko perkawinan sedarah meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengurangi kekayaan genetik, meningkatkan risiko kelainan pada gajah yang lahir, serta menurunkan sistem kekebalan tubuh mereka.
Tidak hanya pembangunan, perburuan ilegal juga masih menjadi ancaman. Masih ada kepercayaan bahwa gading gajah memiliki manfaat kesehatan, sehingga bagian tubuh satwa tersebut tetap menjadi salah satu komoditas yang diperdagangkan di pasar gelap internasional.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































