Jakarta (ANTARA) -
DPP Partai Golkar mendorong penguatan kolaborasi energi antarnegara di kawasan Indo-Pasifik lewat diplomasi energi yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia di Forum Indo-Pasifik Jepang.
“Kami mendukung penuh diplomasi Menteri Bahlil yang mendorong memperkuat kerja sama interregional antarnegara Indo-Pasifik karena secara geografis posisi Indo-Pasifik relatif lebih jauh dari dampak langsung konflik Amerika Serikat, Israel dan Iran,” kata Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi dia di Jakarta, Selasa.
Mantan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin ini menilai langkah diplomasi energi tersebut menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.
Ia menilai blokade Selat Hormuz serta serangan terhadap kilang minyak di Iran, Israel dan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah berpotensi menghambat pasokan minyak global.
Kondisi tersebut dapat memicu kelangkaan pasokan sekaligus mendorong harga minyak dunia menembus di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel.
Baca juga: Uni Eropa harus dukung sektor energi di tengah konflik Timur Tengah
Menurutnya, hampir semua negara di dunia saat ini belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan harga minyak di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel karena dampak sistemiknya sangat besar terhadap perekonomian global.
Ia mengatakan ekonomi global sendiri dinilai belum sepenuhnya pulih sejak pandemi sehingga tekanan baru dari sektor energi berpotensi memperberat situasi perekonomian dunia.
Abdul Rahman Farisi menilai penguatan kerja sama energi antarnegara di kawasan Indo-Pasifik merupakan langkah strategis untuk meminimalisir dampak negatif dari potensi kelangkaan pasokan energi sekaligus menjaga stabilitas harga minyak dunia.
Ia menegaskan kawasan Indo-Pasifik memiliki peran strategis dalam ekosistem kerja sama energi global. Kawasan ini memiliki potensi besar mulai dari eksplorasi sumber daya energi, peningkatan kapasitas industri energi terutama di sektor migas, hingga pengembangan energi baru dan terbarukan.
Menurut Abdul Rahman, kolaborasi yang dibangun melalui forum tersebut juga berpotensi memperkuat rantai pasok energi kawasan sekaligus membuka peluang investasi serta transfer teknologi yang lebih luas bagi Indonesia.
Baca juga: Serangan drone hantam Kedutaan Besar AS di Baghdad dan picu kebakaran
Ia berharap kerja sama energi Indo-Pasifik, khususnya di sektor minyak dan gas, dapat menciptakan kondisi positive-sum game, yakni situasi di mana seluruh negara yang terlibat dalam kerja sama memperoleh manfaat dan keuntungan bersama.
“Langkah yang ditempuh Menteri Bahlil ini bukan hanya untuk memitigasi dampak risiko dari konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel, tetapi juga bagaimana negara-negara Indo-Pasifik bisa bertahan sekaligus memperoleh manfaat bersama di tengah ketegangan geopolitik dunia,” katanya.
Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































