Banda Aceh (ANTARA) - Ahli Geologi dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Bambang Setiawan menyarankan agar dilakukan pengalihan aliran air dari wilayah pergerakan tanah atau longsoran di Desa Bah Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah agar tanahnya tidak bergerak cepat.
"Untuk menangani fenomena tersebut dalam jangka pendek, saya menyarankan untuk mengalihkan aliran air permukaan yang ada agar tidak melewati lokasi kejadian," kata Bambang Setiawan di Banda Aceh, Rabu terkait fenomena pergerakan tanah di Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Tetapi, kata Dosen Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik USK ini, pengalihan aliran air termasuk penentuan lintasan alirannya juga harus mempertimbangkan kondisi geologi di lapangan.
Seperti diketahui, dalam beberapa bulan terakhir ini, Aceh dihebohkan dengan terjadinya longsoran tanah di Ketol, Kabupaten Aceh Tengah hingga membentuk lubang raksasa. Lubang itu mulanya berbentuk kecil pada awal tahun 2000-an, dan terus bergerak secara bertahap sejak 2004.
Berdasarkan perhitungan tim Geologi Dinas ESDM Aceh, lubang tersebut terus membesar hingga hari ini sudah melebihi 30 ribu meter persegi (m²). Jika dibandingkan pada 2021 lalu sekitar 20.199 m², artinya terjadi pergerakan 10.000 m² dalam lima tahun terakhir.
Menurut Bambang, fenomena alam (lubang raksasa) di kawasan Ketol Aceh Tengah ini masih menjadi misteri, dan perlu dilakukan penelitian geologi lebih lanjut. Karena secara geologi, kondisi ini berpotensi atau mengarah pada fenomena sinkhole sebagai pemicu munculnya lubang besar tersebut.
Baca juga: Pergerakan tanah di Desa Bah Aceh Tengah meluas hingga 30 ribu m²
Dirinya menjelaskan, menurut Cameron dkk 1983 (penyusun peta geologi lembar Takengon, Aceh Tengah), terdapat formasi Sembuang (MPs) berupa batu gamping (limestone) yang mengalasi batuan vulkanik satuan Lampahan (Qvl) di permukaan.
Di sisi lain, batuan vulkanik penyusun dari satuan Lampahan juga memiliki potensi longsor tinggi, khususnya pada lereng-lereng yang curam.
"Permasalahan akan menjadi rumit jika memang fenomena sinkhole yang memicu munculnya lubang raksasa tersebut. Karena, pekerjaan teknis untuk menangani dampak sinkhole ini memerlukan effort dan membutuhkan sumber daya lebih besar dari longsor biasa," ujarnya.
Secara harfiah, lanjut Bambang, sinkhole dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi bawah permukaan yang dihasilkan dari pelarutan batu gamping atau lebih umum dikenal sebagai batu kapur selama periode geologis.
Atau dengan kata lain, sinkhole adalah cekungan, disebabkan oleh tanah dan material lain yang amblas ke dalam lubang terbuka atau rongga di bawah permukaan tanah.
"Sinkhole biasanya dapat dibedakan dalam dua buah model, yaitu runtuhan (collapse) lapisan penutup atau penurunan (subsidence) lapisan penutup. Hasil penelitian itu diharapkan dapat menyimpulkan mekanisme terbentuknya “lubang raksasa" tersebut," katanya.
Baca juga: BPBD: Fenomena longsoran tanah di Aceh Tengah membesar sejak 2000-an
Ia menambahkan, berdasarkan data citra satelit pada 2015, 2021 dan 2025, terdapat peluang untuk terus meluasnya lubang raksasa tersebut. "Karena citra satelit itu memperlihatkan adanya perluasan lubang ke arah selatan atau mendekati jalan lintas kabupaten," ujarnya.
Maka dari dari itu, selain solusi jangka pendek dengan pengalihan aliran air, dan pemasangan rambu-rambu jalan, untuk penanganan jangka panjangnya, juga harus dilakukan kajian geologi lebih lanjut untuk menyimpulkan mekanisme terbentuknya “lubang raksasa” tersebut.
"Upaya-upaya mitigasi teknis untuk penanganan jangka panjang sebaiknya mengacu pada hasil dari penelitian geologi lebih lanjut tersebut," demikian Bambang Setiawan.
Sebagai informasi, berdasarkan hasil kajian sementara Dinas ESDM Aceh, pergerakan tanah di sana disebabkan materialnya tersusun di atas tufa vulkanik dari formasi Geureudong (batuan gunung api) yang bersifat lepas, berpori sehingga mudah menyerap air dan jenuh air.
Kemudian, terdapat rembesan atau aliran air bawah tanah yang mengerosi secara lateral. Saluran drainase dapat meluap dan membebani tanah disana, terutama saat datangnya musim penghujan.
Lalu, kondisi tebing yang curam hampir tegak menambah ketidakstabilan lereng. Serta dapat dipicu oleh hujan dan juga dapat gempa bumi, sehingga lerengnya tidak stabil.
Baca juga: BRIN ingatkan ancaman "sinkhole" di wilayah batugamping Indonesia
Baca juga: Cek fakta, air sinkhole di Limapuluh Kota, Sumbar, memiliki pH 8,4 sehingga baik untuk kesehatan
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































