Jakarta (ANTARA) -
Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog menyampaikan bahwa cara individu merespons kekecewaan dipengaruhi antara lain oleh kemampuannya dalam mengelola emosi.
"Orang yang mampu merespons kekecewaan secara lebih sehat umumnya dapat mengenali apa yang ia rasakan, menahan rasa tidak nyaman, serta mengekspresikan perasaan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain," kata psikolog lulusan Universitas Indonesia itu saat dihubungi ANTARA pada Kamis.
Kemampuan individu dalam mengelola emosi, menurut dia, sering kali dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil dan kondisi lingkungan keluarga.
Orang yang diajari menenangkan diri ketika marah dan diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan secara aman biasanya lebih dapat mengelola emosi, sehingga bisa merespons kekecewaan dengan cara yang lebih sehat.
Sebaliknya, orang kesulitan memahami atau mengendalikan emosi punya kemungkinan lebih besar untuk merespons kekecewaan dengan cara yang agresif.
Ratih menyampaikan bahwa saat menghadapi kekecewaan, perasaan sedih atau terluka dapat dengan cepat berubah menjadi kemarahan sebagai bentuk perlindungan diri. Kemarahan bisa dipilih sebagai cara instan untuk melepaskan ketidaknyamanan.
Selain faktor pengalaman hidup, Ratih mengatakan bahwa kondisi seperti stres berkepanjangan, kelelahan mental, dan pengalaman trauma dapat memengaruhi cara seseorang bereaksi terhadap tekanan.
"Faktor-faktor tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara impulsif ketika menghadapi situasi yang memicu frustrasi," ujarnya.
Baca juga: Kenali perubahan emosi dan respons tubuh yang menandakan stres
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog saat dihubungi ANTARA pada Kamis mengatakan bahwa kemampuan individu untuk mengelola emosi tidak muncul secara otomatis, tetapi perlu dilatih sejak dini di lingkungan keluarga maupun pendidikan.
Ia menilai sistem pendidikan selama ini lebih banyak menekankan pada kepatuhan dan instruksi. Kemampuan peserta didik untuk berdialog, memahami emosi, serta mengambil keputusan sering kali tidak dilatih.
"Padahal kemampuan berpikir kritis dan mengelola emosi itu harus dilatih terus. Kalau tidak, seseorang akan lebih mudah bereaksi secara impulsif ketika menghadapi tekanan," katanya.
Novi mengemukakan bahwa paparan media sosial yang sangat intens dapat meningkatkan respons emosional impulsif, terutama jika kemampuan pengendalian dirinya tidak terlatih dengan baik.
Menurut dia, algoritma media sosial sering kali mendorong respons cepat dan emosional, sehingga orang semakin jarang mengambil jeda untuk berpikir sebelum bereaksi.
"Kalau kemampuan berpikirnya kuat, seseorang masih bisa menunda keputusan. Tapi kalau tidak, emosi lebih mudah mengambil alih," katanya.
Baca juga: Kemampuan berbahasa bantu kendalikan amarah anak
Baca juga: Tanda krisis emosional sering tak terlihat sebelum berujung kekerasan
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































