Surabaya (ANTARA) - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan Indonesia berpotensi menjadi pusat kebudayaan dunia karena memiliki megadiversity budaya.
“Dengan lebih dari 17.000 pulau, sekitar 1.340 suku bangsa, dan ratusan bahasa daerah, Indonesia disebut sebagai negara dengan megadiversity budaya yang menjadikannya berpotensi menjadi pusat kebudayaan dunia dan kekuatan besar (super power) di bidang kebudayaan,” kata Menbud Fadli Zon dalam keterangan diterima di Surabaya, Jawa Timur, Minggu.
Dalam forum tersebut Fadli juga memperkenalkan istilah "Out of Nusantara" untuk menegaskan posisi strategis Indonesia dalam sejarah migrasi manusia.
Baca juga: Menteri Kebudayaan memaparkan kekayaan ragam budaya Indonesia
“Selama ini dikenal teori Out of Africa. Namun bukan tidak mungkin nenek moyang Nusantara bermigrasi ke Pasifik, Australia, bahkan sampai ke Afrika,” ujar Menbud Fadli Zon.
Ia menjelaskan sejumlah temuan menunjukkan jejak kehidupan manusia purba di Nusantara telah ada sejak 60.000 hingga 70.000 tahun lalu, sehingga membuka ruang kajian baru tentang arus migrasi manusia.
Selain prasejarah, Fadli Zon menyoroti peran museum sebagai etalase peradaban. Ia mencontohkan Louvre Museum di Paris, Prancis, serta sejumlah museum besar di Amerika Serikat sebagai simbol identitas budaya dan pusat edukasi publik.
“Kita berharap museum-museum di Indonesia menjadi pusat edukasi dan etalase peradaban bangsa,” kata Fadli Zon.
Baca juga: Menteri Kebudayaan dorong penulisan sejarah
Fadli juga menyinggung perkembangan industri kreatif, khususnya film nasional, yang kini menguasai sekitar 67 persen pangsa pasar domestik.
Ia menyebut film animasi Jumbo mencetak rekor penonton domestik dan film Indonesia tampil di berbagai festival internasional, seperti Berlin International Film Festival dan Cannes Film Festival.
“Kebudayaan adalah fondasi. Di mana pun latar belakang kita, tidak pernah bisa dilepaskan dari budaya,” kata Menbud Fadli Zon.
Baca juga: Menbud sebut buku sejarah Indonesia bisa diakses gratis pada Februari
Pewarta: Willi Irawan
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































