Estetika regeneratif dan pergeseran makna kecantikan

1 week ago 15
estetika regeneratif diperkirakan akan terus berkembang sebagai salah satu pendekatan utama dalam dunia kecantikan modern

Jakarta (ANTARA) - Dunia estetika terus bergerak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan cara pandang masyarakat terhadap kecantikan. Jika pada masa lalu prosedur estetika kerap dikaitkan dengan perubahan penampilan yang drastis dan instan, kini tren tersebut mulai bergeser ke arah pendekatan yang lebih alami melalui konsep regenerative aesthetics atau estetika regeneratif.

Pendekatan ini semakin mendapat perhatian karena dianggap mampu memberikan hasil yang lebih natural, bertahap, dan berkelanjutan. Fokusnya bukan lagi mengubah wajah seseorang agar sesuai dengan standar kecantikan tertentu, melainkan membantu tubuh memperbaiki dan meregenerasi dirinya sendiri sehingga kualitas kulit dan struktur wajah tetap terjaga seiring bertambahnya usia.

Perubahan tren tersebut mencerminkan meningkatnya literasi masyarakat dalam memahami kesehatan kulit dan proses penuaan. Kecantikan tidak lagi dimaknai sebagai upaya mempertahankan wajah muda selamanya, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup yang sehat dan penuh percaya diri.

Presiden Direktur PT Pertiwi Agung (Landson) Fera Damayanti menilai masyarakat saat ini jauh lebih kritis dalam memilih perawatan estetika. Mereka tidak hanya mempertimbangkan hasil yang terlihat cepat, tetapi juga manfaat jangka panjang bagi kesehatan kulit.

Menurut dia, konsumen masa kini semakin selektif dan informatif dalam menentukan pilihan. Mereka tidak sekadar ingin tampil menarik hari ini, melainkan berupaya menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri dalam jangka panjang.

Perubahan pola pikir tersebut juga mempengaruhi standar kecantikan yang berkembang di masyarakat. Jika sebelumnya banyak pasien datang ke klinik dengan keinginan mengubah bentuk wajah agar menyerupai tren tertentu, kini mereka justru ingin mempertahankan karakter alami wajahnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam dunia estetika. Kecantikan tidak lagi dipandang sebagai proses transformasi menjadi orang lain, melainkan upaya menjaga identitas diri dengan kondisi kulit yang lebih sehat dan kualitas wajah yang lebih baik.

Dokter estetika sekaligus Indonesia's Face of Ellansé 2026 Charles Kurniawan melihat perubahan preferensi pasien tersebut secara langsung dalam praktik sehari-hari. Menurut dia, pasien masa kini lebih menginginkan tampilan yang segar, sehat, dan alami.

Mereka berharap orang lain melihat adanya peningkatan kualitas penampilan tanpa langsung menyadari bahwa telah dilakukan tindakan estetika. Keinginan tersebut berbeda dengan tren beberapa tahun lalu ketika banyak orang justru menginginkan perubahan yang terlihat jelas setelah menjalani prosedur kecantikan.

Kesadaran baru ini juga menunjukkan bahwa estetika semakin dipahami sebagai bagian dari kualitas hidup. Penampilan yang terawat dianggap mampu meningkatkan rasa percaya diri, produktivitas, dan kesejahteraan psikologis seseorang.

Dalam perkembangannya, tren estetika modern tidak lagi berfokus pada satu aspek tertentu. Pendekatan terkini menggabungkan perbaikan kualitas kulit (skin quality) dan struktur wajah (facial structure) secara bersamaan.

Kulit yang sehat dengan tekstur lebih baik, pori-pori yang lebih halus, serta elastisitas yang terjaga menjadi fondasi penting dalam perawatan estetika. Di saat yang sama, struktur wajah juga perlu dipertahankan agar tetap proporsional dan tidak mengalami penurunan akibat proses penuaan.

Secara ilmiah, proses penuaan memang terjadi pada seluruh lapisan wajah. Seiring bertambahnya usia, produksi kolagen alami tubuh terus turun. Akibatnya, kulit menjadi lebih tipis, elastisitas berkurang, dan jaringan penopang wajah melemah.

Kondisi tersebut membuat pendekatan yang hanya mengandalkan penambahan volume wajah tidak lagi dianggap cukup. Masyarakat mulai mencari solusi yang mampu membantu tubuh membangun kembali kolagen secara alami.

Di sinilah konsep estetika regeneratif menemukan relevansinya. Salah satu teknologi yang banyak digunakan dalam pendekatan ini adalah collagen stimulator berbasis Polycaprolactone (PCL). Berbeda dengan filler konvensional yang bekerja dengan menambah volume pada area tertentu, teknologi tersebut dirancang untuk merangsang pembentukan kolagen baru secara bertahap.

Pembicara Sinclair Asia Pacific dr Sheau Jye Teh menjelaskan bahwa teknologi tersebut memberikan manfaat ganda. Selain membantu memperbaiki struktur wajah, teknologi itu juga mendorong regenerasi kolagen alami dalam jangka panjang.

Kolagen merupakan protein utama yang berperan menjaga kekencangan, elastisitas, dan kekuatan kulit. Ketika produksi kolagen dirangsang kembali, tubuh memiliki kemampuan untuk memperbaiki kualitas jaringan dari dalam sehingga hasil yang diperoleh terlihat lebih alami.

Keunggulan lain dari pendekatan regeneratif adalah daya tahannya yang relatif lebih lama. Jika beberapa prosedur estetika konvensional memerlukan perawatan ulang dalam rentang enam hingga 12 bulan, stimulasi kolagen dapat memberikan manfaat hingga sekitar dua tahun.

Karena perubahan terjadi secara bertahap, hasil yang muncul juga cenderung lebih halus dan tidak menimbulkan kesan wajah berubah drastis dalam waktu singkat. Bagi banyak pasien, aspek inilah yang menjadi daya tarik utama.

Tren serupa ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Head of Sinclair Asia Pacific Ada Chu menyebutkan bahwa pasien di berbagai negara Asia Pasifik menunjukkan preferensi yang hampir sama. Mereka menginginkan hasil yang aman, alami, dan tetap menghormati karakteristik wajah masing-masing.

Meski demikian, setiap negara memiliki standar kecantikan dan struktur wajah yang berbeda. Karena itu, pendekatan estetika tidak dapat disamaratakan dan harus disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Indonesia sendiri dinilai sebagai salah satu pasar estetika yang berkembang pesat di kawasan Asia Pasifik. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan kulit, pertumbuhan kelas menengah, serta akses terhadap teknologi medis modern menjadi faktor yang mendorong perkembangan tersebut.

Ke depan, para pelaku industri memperkirakan dunia estetika akan semakin mengarah pada konsep healthy aging. Pendekatan ini menempatkan proses penuaan sebagai sesuatu yang alami, namun dapat dijalani dengan kondisi fisik dan mental yang optimal.

Dalam konteks yang lebih luas, tren estetika regeneratif menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi kesehatan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Bukan sekadar mengejar penampilan, tetapi juga membantu individu menjaga kesehatan kulit, rasa percaya diri, dan produktivitas pada setiap fase kehidupan.

Karena itu, estetika regeneratif diperkirakan akan terus berkembang sebagai salah satu pendekatan utama dalam dunia kecantikan modern. Daya tariknya bukan terletak pada janji perubahan instan, melainkan pada kemampuannya bekerja selaras dengan mekanisme alami tubuh untuk beregenerasi, sehingga kecantikan dapat dirawat secara lebih sehat, autentik, dan berkelanjutan.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |