Washington (ANTARA) - Permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar negara-negara anggota NATO bergabung dengan AS dalam upaya memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz di tengah operasi militer AS-Israel terhadap Iran dinilai sudah tepat.
Pendapat itu disampaikan Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker pada Senin.
Sebelumnya pada Ahad (15/3), Trump mengaku dirinya tidak yakin para sekutu NATO bersedia membela AS, berbeda dengan komitmen Washington untuk mendukung aliansi tersebut.
"Keamanan Selat Hormuz adalah kepentingan mereka (negara-negara NATO), dan karena itu dia (Trump) tepat sekali untuk menyarankan agar sekutu kami perlu datang, mereka perlu membantu dan mendukung upaya kami dalam memastikan bahwa rezim Iran tidak lagi memiliki rudal balistik, drone Shahed, atau mengembangkan senjata nuklir," kata Whitaker kepada Fox News.
Pada Sabtu (14/3), Trump meminta China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lainnya untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Prancis dan sejumlah negara lain sedang menjalani misi bersama untuk memastikan jalur tersebut aman dilintasi kapal tanker di tengah konflik Timur Tengah, demikian laporan Financial Times pada Ahad.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di seluruh Timur Tengah.
Eskalasi seputar Iran telah menyebabkan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, yang memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: CENTCOM akan lanjut serang Iran untuk kebebasan Selat Hormuz
Baca juga: Trump desak sekutu Eropa, Arab bantu buka Selat Hormuz, dunia waspada
Baca juga: Tanggapi permintaan Trump, PM: Jepang tidak akan kirim kapal ke Hormuz
Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































