Dua jam tanpa layar

2 hours ago 2
ketika distraksi digital dikurangi, ruang sosial justru tumbuh kembali

Surabaya (ANTARA) - Di tengah derasnya arus digital yang membentuk kebiasaan baru masyarakat, pengaturan penggunaan gawai menjadi salah satu isu paling mendesak dalam perlindungan anak.

Kota Surabaya, Jawa Timur, mengambil langkah yang tidak biasa dengan menetapkan jeda kolektif selama dua jam, pukul 18.00–20.00 WIB, sebagai waktu tanpa gawai bagi keluarga.

Kebijakan ini bukan sekadar imbauan, melainkan gerakan sosial yang dirancang untuk mengembalikan ruang interaksi yang perlahan tergerus layar.

Langkah tersebut lahir dari kesadaran bahwa anak-anak kini hidup dalam lanskap digital yang kompleks. Akses terhadap informasi memang semakin terbuka, tetapi di saat yang sama risiko juga meningkat mulai dari paparan konten tidak sesuai usia, perundungan siber, hingga eksploitasi data pribadi.

Dalam konteks ini, pengendalian tidak cukup dilakukan melalui teknologi, melainkan perlu ditanamkan dalam pola hidup sehari-hari.

Gerakan Surabaya Tanpa Gawai menjadi menarik karena menyasar inti persoalan, yakni relasi dalam keluarga. Dua jam tanpa perangkat digital dimaknai sebagai ruang pemulihan, bukan hanya untuk anak, tetapi juga orang tua yang kerap terjebak dalam rutinitas serupa.

Kebijakan ini menempatkan keluarga sebagai garda terdepan perlindungan digital, bukan sekadar pelengkap dari regulasi formal.


Ruang digital

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara anak-anak belajar, bermain, dan berinteraksi. Namun, perubahan ini tidak selalu diiringi kesiapan literasi digital yang memadai.

Banyak bocah mengenal gawai lebih cepat dibanding kemampuan memahami risikonya. Di sisi lain, orang tua kerap tertinggal dalam memahami ekosistem digital yang digunakan anak-anak.

Kondisi ini menciptakan kesenjangan pengawasan. Anak-anak dapat mengakses berbagai platform dengan mudah, sementara kontrol orang tua menjadi terbatas.

Dalam situasi seperti ini, kebijakan pembatasan waktu menjadi langkah awal yang relevan. Bukan untuk melarang, melainkan memberi batas yang jelas.

Pemerintah Kota Surabaya merespons situasi tersebut dengan pendekatan berlapis. Selain menetapkan jam tanpa gawai, juga diterapkan pengaturan berbasis usia terhadap akses digital anak.

Anak-anak di bawah 13 tahun dibatasi hanya pada aplikasi ramah anak, sementara kelompok usia lebih tinggi tetap berada dalam pengawasan orang tua.

Langkah ini menunjukkan bahwa perlindungan anak tidak bisa bersifat parsial. Ia membutuhkan kombinasi antara regulasi, edukasi, dan pembiasaan. Tanpa itu, anak-anak akan terus berada dalam posisi rentan di ruang digital yang semakin terbuka.

Di sektor pendidikan, pembatasan gawai telah menunjukkan dampak yang cukup nyata. Interaksi antarsiswa meningkat, suasana belajar menjadi lebih fokus, dan komunikasi dengan guru menjadi lebih intens. Ini memperlihatkan bahwa ketika distraksi digital dikurangi, ruang sosial justru tumbuh kembali.

Fenomena serupa juga terlihat di lingkungan masyarakat. Penyediaan ruang publik seperti lapangan olahraga dan kegiatan komunitas menjadi alternatif penting bagi anak untuk mengalihkan perhatian dari gawai. Aktivitas fisik dan sosial terbukti mampu mengurangi kebergantungan pada digital secara alami.

Namun demikian, kebijakan dua jam tanpa gawai tetap menghadapi tantangan. Dalam praktiknya, tidak semua keluarga memiliki kesiapan yang sama. Ada yang mampu mengisi waktu dengan interaksi berkualitas, tetapi tidak sedikit yang justru kebingungan ketika gawai disingkirkan.

Di sinilah letak tantangan sesungguhnya, yakni bukan pada aturan, tetapi pada kemampuan menghidupkan makna di baliknya.


Interaksi pulih

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |