Jakarta (ANTARA) -
Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Dr. dr. Harim Priyono, SpTHTBKL, Subsp. Oto (K) mengingatkan penggunaan pelantang telinga (earphone atau headphone) secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran.
Menurut Harim, paparan suara keras dalam waktu lama dapat menimbulkan gangguan pendengaran akibat bising atau noise induced hearing loss yang bersifat permanen.
“Kalau kita menggunakan earphone atau headphone akan ada paparan bising. Gangguan yang ditimbulkan bukan tipe konduktif, tetapi sensori neural dan sifatnya permanen,” kata Harim dalam diskusi yang digelar secara daring oleh RSUP Nasional Dr Ciptomangunkusumo, pada Jumat.
Baca juga: Cedera bising kronik bisa ganggu komunikasi sehari-hari
Baca juga: 7 tips rawat telinga dengan benar agar tetap sehat dan optimal
Dokter yang merupakan anggota dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan pengalaman lebih dari 19 tahun itu menjelaskan gangguan sensori neural terjadi pada sel rambut di koklea atau rumah siput di telinga dalam. Kerusakan pada bagian tersebut tidak dapat diperbaiki sehingga penurunan pendengaran bersifat menetap.
Karena itu Harim menyarankan masyarakat mengikuti aturan penggunaan perangkat audio yang dikenal dengan prinsip 60–60.
Aturan tersebut berarti volume maksimal yang dianjurkan adalah 60 persen dari kapasitas perangkat. Penggunaan juga sebaiknya tidak lebih dari 60 menit secara terus menerus.
“Setelah 60 menit sebaiknya diberi waktu istirahat sekitar 15 menit atau lebih sebelum digunakan kembali,” ujarnya.
Selain mengatur volume dan durasi penggunaan, Harim juga menilai teknologi bone conduction earphone dapat menjadi alternatif yang lebih aman.
Baca juga: Kiat penggunaan gawai peredam bising aman untuk kesehatan telinga
Perangkat tersebut bekerja dengan menghantarkan suara melalui getaran tulang sehingga tidak langsung masuk melalui liang telinga.
Dengan mekanisme tersebut, suara tidak mengalami proses penguatan alami yang biasanya terjadi di liang telinga, gendang telinga, dan tulang pendengaran.
Dengan begitu, risiko kerusakan akibat paparan suara keras dapat berkurang dibandingkan penggunaan earphone biasa.
Meski demikian, Harim menegaskan penggunaan perangkat audio tetap perlu dibatasi agar kesehatan pendengaran tetap terjaga.
Baca juga: Dokter sebut serumen membantu menjaga kesehatan liang telinga
Baca juga: Kiat memilih alat dengar yang aman untuk kesehatan pendengaran
Baca juga: Pemakaian "earphone" jangka panjang bisa timbulkan peradangan telinga
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































