Diplomat RI ingatkan risiko kerja sama baru Indo-Pasifik

1 week ago 9

Jakarta (ANTARA) - Diplomat Indonesia memperingatkan risiko pencampuran kepentingan ekonomi, perdagangan, politik, dan keamanan dalam praktik kerja sama bilateral baru di kawasan Indo-Pasifik yang dinilai dapat mengganggu komitmen terhadap perjanjian internasional berbasis aturan.

Peringatan itu disampaikan mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang Soemadi Brotodiningrat dalam FPCI-GRIPS Joint Seminar di Jakarta, Jumat, merujuk pada semakin beragamnya instrumen kerja sama yang melibatkan negara-negara di kawasan Indo-Pasifik.

“Dengan praktik bilateral transisional yang memuat komitmen terhadap aturan yang diterima, serta pencampuran kepentingan ekonomi dan perdagangan dengan tujuan politik dan keamanan, penting bagi kita untuk mencermati secara saksama bagaimana hal ini dapat memengaruhi kita,” kata Soemadi.

Ia menilai praktik bilateral transisional tersebut berpotensi memengaruhi hubungan yang selama ini dibangun melalui berbagai perjanjian berbasis aturan, termasuk kemitraan bilateral antara Indonesia dan Jepang.

“Soal yang saya khawatirkan adalah implementasi perjanjian berbasis aturan itu dapat terancam oleh komitmen baru yang justru diperkenalkan melalui sistem bilateral jenis ini,” ujarnya.

Baca juga: Asia-Pasifik, Barat bahas isu keamanan di Konferensi Keamanan Munich

Menurut Soemadi, kawasan Indo-Pasifik sebenarnya telah memiliki berbagai skema kerja sama regional, bahkan sejumlah perjanjian yang mengikat secara hukum dan telah berjalan selama ini.

Ia mencontohkan konsep Free and Open Indo-Pacific (FOIP) dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang menekankan stabilitas, keterbukaan, serta kerja sama antarnegara.

Selain itu, terdapat pula berbagai mekanisme regional yang berpusat pada ASEAN, seperti ASEAN Plus One, Plus Three, dan Plus Five.

Dalam konteks hubungan bilateral, Soemadi mengatakan Indonesia dan Jepang telah berhasil melampaui beban konflik sejarah dan berkembang menjadi kemitraan strategis yang semakin erat.

“Kami menyadari bahwa hubungan yang baik bukan hanya hasil dari kepentingan dan nilai bersama, tetapi juga dari saling pengertian serta penerimaan atas perbedaan,” katanya.

Karena itu, ia menilai kunci hubungan antarnegara, terutama antara Indonesia dan Jepang, adalah memastikan setiap perbedaan tidak berkembang menjadi pertentangan.

“Yang paling penting adalah kedua pihak bersedia dan siap mencegah setiap perbedaan berkembang menjadi pertentangan dan benih konflik,” ujarnya.

Baca juga: Intervensi selektif AS di Indo-Pasifik ciptakan tantangan, peluang RI

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |