Jakarta (ANTARA) - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyatakan bahwa tatanan baru dunia ditandai dengan berakhirnya dominasi Barat.
“Ke depan, tatanan dunia berikutnya memiliki sejumlah ciri utama. Pertama, dominasi Barat berakhir,” kata Dino dalam Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025 di Jakarta, Sabtu.
Berakhirnya dominasi Barat, ucapnya, bukan karena Barat runtuh, melainkan karena banyaknya negara yang bangkit dengan kapasitas ekonomi, politik, dan teknologi yang besar.
Ciri lain dari tatanan baru dunia menurut mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat tersebut adalah era unipolar AS telah berlalu dan tidak akan kembali.
Ketiga, kebangkitan kekuatan menengah atau middle powers. FPCI meyakini sekitar 20 negara—termasuk Indonesia—akan memainkan peran penentu dalam membentuk tatanan global baru, dengan mayoritas berasal dari Global South.
Sedangkan ciri keempat adalah lahirnya keseimbangan baru yang dinamis, dengan berbagai model kerja sama lintas negara. Dino menilai bahwa aliansi isu spesifik akan berkembang pesat dibandingkan pakta militer formal, sehingga dunia menjadi lebih cair dan fleksibel.
“Contohnya, kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Prabowo yang cepat memperkuat kemitraan ekonomi dengan Uni Eropa, Kanada, dan berbagai negara lain, sekaligus meningkatkan hubungan strategis dengan China, India, Turki, Prancis, Arab Saudi, Inggris, UEA, serta Australia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dino menyarankan agar Global South lebih aktif dalam membentuk perubahan di tatanan baru dunia, dan tidak hanya sekadar mengeluh karena tidak ada jaminan tatanan baru dunia akan lebih baik dibanding tatanan yang sekarang.
Global South harus lebih konstruktif dan berpandangan maju, sementara Barat harus meninggalkan sikap patronistik dan tidak memandang Global South semata dari kacamata rivalitas geopolitik dengan China, kata dia,
“Negara-negara berkembang harus mengeklaim, memiliki, mendanai, dan memperkuat multilateralisme, bukan menyerahkan semua pembiayaannya kepada negara maju,” tuturnya.
Berkaca sejarah diplomasi Indonesia, Dino menilai saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia untuk menjadi salah satu perancang utama tatanan dunia berikutnya.
“Kekuatan diplomasi Indonesia terletak pada kekuatan gagasan dan idealisme. Dengan posisi sebagai negara ASEAN, anggota G20, serta reputasi kuat dalam inovasi multilateral, ini adalah saatnya Indonesia menjadi salah satu perancang utama tatanan dunia berikutnya,” kata Dino.
Baca juga: Dino Patti Djalal: Dunia masuki "Next World Order", RI harus berperan
Baca juga: Rusia: China objektif, bantu lawan dominasi narasi Barat soal Ukraina
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































