Di antara senja Ramadan dan tarawangsa, Budaya Sumedang bercerita

11 hours ago 1
Sumedang sangat berpotensi untuk menjadi pusat kebudayaan Sunda. Nantinya, Sumedang ini jangan jadi tempat persinggahan saja, tapi harus benar-benar menjadi destinasi utama

Sumedang (ANTARA) - Senja turun perlahan di Kecamatan Rancakalong, Sumedang, menyelimuti Gheotheater dengan cahaya keemasan yang hangat.

Udara sore membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang baru disiram hujan ringan beberapa jam sebelumnya.

Ratusan warga berkumpul, menyiapkan diri untuk ngabuburit yang berbeda dari biasanya; bukan sekadar menunggu azan magrib, tetapi merayakan budaya dan iman.

Bupati Sumedang yang hadir menyebut Geotheater bukan sekadar panggung pertunjukan.

“Geotheater ini bukan hanya tempat tampil seni, tetapi ruang perjumpaan nilai. Di sini seni, budaya, dan dakwah bisa berjalan berdampingan. Inilah wajah Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda,” ujarnya sembari memandang barisan warga yang memenuhi area terbuka itu.

Di barisan, anak-anak duduk bersila dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu saat seniman menyesuaikan senar tarawangsa (alat musik gesek tradisional Sunda yang memiliki dua dawai) dan menyiapkan wayang golek untuk pertunjukan.

Sesekali terdengar tawa kecil atau suara berbisik, bercampur dengan bunyi langkah kaki orang tua yang menempati sisi panggung.

Beberapa orang tua mengawasi anak-anak mereka sambil sesekali menunjuk ke arah panggung, menjelaskan tentang tarawangsa dan sejarahnya bagi budaya Sunda.

Panggung mulai hidup ketika alunan tarawangsa terdengar lembut, memecah hening sore dengan nada-nada mengalun pelan, menenangkan, tapi juga menyentuh.

Setelah beberapa menit, panggung hidup ketika wayang golek pun mulai menari.

Setiap gerakan boneka bercerita ajaran nilai-nilai Islam yang dibalut kearifan lokal Sunda sehingga membuat warga yang menonton terhanyut dalam kisahnya, seolah pesan itu berbisik lembut ke hati masing-masing.

Baca juga: Kemenbud dorong Benteng Palasari Sumedang jadi cagar budaya nasional

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |