Danantara kaji skema pembelian 50 unit pesawat Boeing untuk Garuda

1 hour ago 1

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) tengah mengkaji terkait berbagai opsi skema dalam rangka merealisasikan rencana pembelian sebanyak 50 unit pesawat dari Boeing untuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia Rohan Hafas memastikan pihaknya siap untuk melakukan pembelian sebanyak 50 unit pesawat dari Boeing, namun saat ini pembahasannya masih di level teknis pemerintahan.

"Ini masih pembahasan teknis, artinya kita siap membeli 50 (unit), tapi Boeing belum menjawab atau akan menjawab, dia mampunya 10 (unit), 20 (unit), itu belum," ujar Rohan dalam Exclusive Group Interview di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis.

Rohan mengatakan, salah satu permasalahan dalam pengadaan armada pesawat yaitu terkait delivery time (waktu pengiriman dari produsen), yang dinilai waktu tunggunya bisa mencapai tujuh tahun.

"Mau milih jenis pesawat yang mana, kalau delivery time-nya juga enggak segera, kita harus diputar otak dulu kan. Karena masih bahas juga, maksudnya kita kan calon pembeli, kita belum bayar. Kita bilang butuh lebih cepat dari tujuh tahun, tapi antrean rata-rata seluruh dunia ya sama," ujar Rohan.

Terkait potensi sumber pendanaan untuk pembelian sebanyak 50 unit pesawat tersebut, Ia mengatakan terdapat berbagai opsi skema pendanaan, termasuk opsi skema cicilan dengan pihak Boeing langsung.

"Sources of fund itu kan bisa macam-macam ya, tapi kan suppliers credit juga ada kan, kita juga bisa nyicil ke Boeing. Itu semua negosiasi yang nanti harus dilakukan," ujar Rohan.

Lebih lanjut, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan memberikan suntikan modal lagi ke Garuda Indonesia ke depan, untuk mendukung penambahan armada tersebut.

Pada pertengahan 2025, PT Danantara Asset Management (DAM) telah mengalokasikan suntikan modal kepada perusahaan maskapai plat merah tersebut sebesar Rp23,67 triliun.

"Capital injection harus ada, nanti next. Mau beli pesawat sebetulnya, tapi pesawat itu di seluruh dunia antre airlines mana pun, bisanya tujuh tahun, makanya nomor satu tadi merger dulu lebih bagus, digabung supaya jumlah armadanya itu efisien yang satu rute," ujar Rohan.

Sebagaimana diketahui, pada pekan lalu, Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah menandatangani dokumen kesepakatan dagang bertajuk Toward a New Golden Age for the U.S.-Indonesia Alliance yang memuat ketentuan perdagangan timbal balik AS.

Dalam salah satu poin kesepakatan dagang, Indonesia wajib melakukan pengadaan pesawat komersial serta barang dan jasa terkait penerbangan senilai 13,5 miliar dolar AS.

"Dari Agreement Reciprocal Tarif ini, ada beberapa kegiatan yang memang menyangkut di Kementerian Investasi maupun di Danantara, di antaranya rencana pembelian 50 pesawat dari Boeing," ujar Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dalam Konferensi Pers yang digelar daring dari Washington DC, AS pada Jumat, 20 Februari 2026.

Baca juga: Danantara target pembentukan holding maskapai BUMN rampung semester I

Baca juga: GIAA kaji ulang proyeksi bisnis usai terima suntikan modal Danantara

Baca juga: Garuda Indonesia: Diskusi pembelian pesawat Boeing masih berlanjut

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |