Fibrilasi atrium di Indonesia banyak terjadi pada usia produktif

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Kasus fibrilasi atrium di Indonesia banyak ditemukan pada kelompok usia produktif 40 hingga 60 tahun, lebih muda dibandingkan pola di negara Barat yang umumnya terjadi pada usia lanjut, sehingga dinilai berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang luas.

Guru Besar Kardiologi dan Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus dewan pengawas Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) atau Perhimpunan Aritmia Indonesia (PERITMI) Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA mengatakan temuan tersebut terlihat dari data penelitian pasien fibrilasi atrium di Indonesia.

“Di negara Barat, puncak usia fibrilasi atrium biasanya di atas 60 tahun. Di Indonesia justru banyak pada rentang 40 sampai 60 tahun. Ini kelompok usia aktif dengan tanggung jawab sosial dan ekonomi besar,” kata Profesor Yoga dalam paparan konferensi pers Pulse Day 2026 dengan tema "Dari Kesadaran Hingga Aksi Nyata Untuk Jantung Sehat”, di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jumat.

Baca juga: Metode MENARI dinilai efektif untuk deteksi dini aritmia

Ia menjelaskan pada usia tersebut banyak individu berada pada puncak karier dan memegang peran penting dalam keluarga maupun pekerjaan. Jika terjadi stroke akibat fibrilasi atrium, dampaknya dapat meluas karena risiko kecacatan dan kematian lebih tinggi.

Menurut dia, stroke akibat fibrilasi atrium dapat terjadi cepat dan cenderung lebih berat karena gumpalan darah berasal dari jantung dan dapat menyumbat pembuluh besar di otak.

Yoga menambahkan sekitar separuh kasus fibrilasi atrium tidak menimbulkan gejala sehingga sering tidak terdeteksi sampai terjadi komplikasi.

Baca juga: Kenali gejala dan pemicu gangguan irama jantung fibrilasi atrium

Karena itu, ia mendorong skrining denyut nadi mandiri melalui metode MENARI atau meraba nadi sendiri secara rutin, terutama pada kelompok usia di atas 40 tahun dan masyarakat dengan faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes.

Upaya deteksi dini MENARI yang digagas oleh Profesor Yoga tersebut menjadi bagian dari kampanye Pulse Day 2026 yang digelar bersama jejaring ahli aritmia regional dan nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan irama jantung dan pencegahan stroke.

Baca juga: Aritmia menjadi pemicu kematian mendadak pada usia muda

Baca juga: Apa yang menyebabkan henti jantung mendadak? Ini faktor risikonya

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |