Jakarta (ANTARA) - Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya pendekatan ekosistem dalam pelestarian manuskrip sebagai bagian dari ketahanan budaya.
Periset PR MLTL BRIN Agus Iswanto menyoroti hasil penelitiannya tentang tradisi pembacaan manuskrip ruwatan di Jember, Jawa Timur. Ia menekankan bahwa manuskrip tertentu justru bertahan karena hidup dan digunakan dalam ritual masyarakat.
"Manuskrip ini tidak bisa digantikan oleh cetakan atau digital. Untuk ruwatan, syaratnya harus naskah tulis tangan beraksara Pegon dan dibaca dalam ritual," katanya dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Agus menilai ketahanan tradisi manuskrip ditopang oleh ekosistem yang utuh, mulai dari penyalin, pembaca, peruwat, tuan rumah, hingga audiens. Oleh karena itu, digitalisasi dinilai penting, tetapi bukan satu-satunya solusi.
Baca juga: Museum NTB dapat hibah Kain Lombok & manuskrip dari kolektor Australia
"Tidak semua budaya manuskrip bisa diselamatkan hanya dengan digitalisasi. Ekosistem sosial-budaya masyarakat lah yang menentukan," ujarnya menegaskan.
Senada dengan Agus, Peserta Program Doktoral Riset BRIN/Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) UI Muh. Heno Wijayanto menilai manuskrip kerap keliru dipahami sebagai artefak statis.
Ia yang mengkaji transformasi ritual lewatan di Jawa Tengah melalui teks Bhima Swarga menilai ketahanan teks tersebut terletak pada kemampuannya beradaptasi lintas zaman dan sistem kepercayaan.
"Manuskrip seharusnya dilihat sebagai tradisi yang hidup, melibatkan praktik tulis, ritual, dan pendidikan yang terus berlanjut. Kunci resiliensinya adalah adaptasi. Tradisi bertahan bukan karena utuh, tetapi karena mampu memberi makna baru bagi masyarakatnya," urai Heno.
Sementara itu, Peneliti Budaya sekaligus Assistant Professor dari Universitas Leiden Belanda, Verena Meyer, mengkritisi paradoks dalam pelestarian warisan tekstual.
Menurutnya, tradisi yang hidup justru sering dianggap kurang penting dibandingkan teks tua yang dianggap asli, sebab digitalisasi bersifat ambivalen atau bertentangan.
"Digitalisasi membantu, tetapi juga bisa mencabut teks dari ekosistem yang memberinya makna. Arsip digital pada dirinya sendiri belum merupakan ekosistem tempat tradisi bisa hidup," ucap Verena Meyer.
Baca juga: UIN Mataram ingin jadi pusat studi pesantren dan manuskrip Nusantara
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































