Jakarta (ANTARA) - Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan kit radiofarmaka CTMP untuk kebutuhan diagnosis sekaligus terapi pasien kanker yang mengalami metastasis tulang.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN Isti Daruwati menyebutkan riset CTMP dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan radiofarmaka yang mampu membantu dokter mendeteksi sekaligus menangani gangguan tulang akibat kanker.
"Banyak kanker primer, seperti kanker payudara atau prostat pada akhirnya menyebar ke tulang. Kondisi tersebut membutuhkan deteksi dini untuk mengetahui sejauh mana penyebaran terjadi, sekaligus penanganan untuk mengurangi dampak lanjutan pada pasien," katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Isti menjelaskan CTMP merupakan senyawa 1,4,8,11-tetraaza cyclo tetradesil-1,4,8,11-tetra metilen fosfonat, yang diformulasikan dalam bentuk kit kering melalui proses aseptik dan dikeringkan menggunakan metode liofilisasi. Bentuk kering bertujuan untuk memperpanjang masa simpan dan memudahkan penyiapan di rumah sakit.
"Kit kering tidak bergantung pada waktu paruh radioaktif yang relatif pendek. Selain itu, bentuk ini mempermudah apoteker menyiapkan radiofarmaka sesaat sebelum digunakan pada hari pemeriksaan pasien, baik untuk diagnosis maupun terapi," ujarnya menjelaskan.
Untuk diagnosis, kata Isti, CTMP dilabel dengan radionuklida teknesium-99m sehingga membentuk 99mTc-CTMP.. Setelah disuntikkan secara intravena, pasien menjalani pencitraan menggunakan kamera gamma di fasilitas kedokteran nuklir, yang berfungsi sebagai pembawa radionuklida menuju jaringan tulang.
Struktur kimia CTMP memiliki empat gugus fosfonat yang berafinitas tinggi terhadap hidroksiapatit pada tulang, serta empat gugus amin yang membentuk ikatan kompleks dengan teknesium-99m.
Baca juga: BRIN nyatakan siap gabung ekosistem riset BGSI untuk kesehatan bangsa
Ketika disuntikkan, senyawa ini terbawa aliran darah dan akan terakumulasi pada jaringan tulang, terutama di area yang mengalami gangguan atau metastasis. Area tersebut akan tampak lebih jelas pada hasil pencitraan karena radionuklida memancarkan radiasi gamma.
Selain untuk diagnosis, Isti menjelaskan kit kering CTMP juga berpotensi digunakan untuk terapi. Dalam uji pra-klinis pada hewan, CTMP menunjukkan akumulasi yang baik di jaringan tulang dan relatif stabil.
"Meskipun uptake (penyerapan)-nya tidak terlalu tinggi, tapi dia kuat dan stabil di dalam tulang untuk beberapa jam," ucapnya.
Dari sisi keamanan, penggunaan kit kering radiofarmaka CTMP untuk diagnosis tidak memiliki efek samping yang berarti. Namun, karena melibatkan radioaktif, penanganannya harus memenuhi persyaratan proteksi radiasi, seperti penyiapan yang dilakukan di ruang khusus dengan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan penggunaan Thermoluminescent Dosimeter (TLD).
Isti menyampaikan, riset pengembangan CTMP dilakukan melalui kolaborasi dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Kerja sama ini melibatkan dokter spesialis kedokteran nuklir untuk mendukung aspek medis, termasuk diskusi kebutuhan klinis serta rencana pengujian lebih lanjut agar pengembangan radiofarmaka ini selaras dengan praktik layanan kesehatan di rumah sakit.
Ke depan, ia dan tim berharap CTMP dapat menjadi alternatif radiofarmaka yang lebih stabil, mudah digunakan di rumah sakit, serta memiliki akurasi yang baik dalam mendeteksi metastasis tulang.
Baca juga: Kepala BRIN tekankan urgensi riset kesehatan berbasis "One Health"
"Inovasi ini ditargetkan mendukung kemandirian produksi radiofarmaka nasional agar tidak bergantung pada produk impor dan meningkatkan kualitas layanan kedokteran nuklir di Indonesia," tutur Isti Daruwati.
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































