Jakarta (ANTARA) - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan hilirisasi migas menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional karena mampu menciptakan nilai tambah, dan serta memperkuat upaya transisi energi menuju emisi nol bersih.
“Hilirisasi migas menjadi salah satu kunci keberhasilan hilirisasi di Indonesia karena terkait dengan petrochemical, refinery, dan memberikan nilai tambah yang sangat signifikan bagi industri migas, khususnya di sektor hilir,” kata Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho dalam keterangan diterima di Jakarta, Sabtu.
Berbicara dalam Seminar UI Mineral & Energy Summit 2025, Fathul mengatakan hilirisasi migas menjadi salah satu daya tarik investasi, dan menjadi kebijakan yang ampuh untuk memperluas lapangan kerja bagi masyarakat. Ia menekankan komitmennya untuk mempercepat program hilirisasi migas.
Menurut Fathul, hilirisasi migas menuntut kesiapan infrastruktur yang kuat, mulai dari sarana pengolahan minyak mentah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan produk turunan bernilai tambah lainnya. Keberadaan terminal BBM dan Liquified Petroleum Gas (LPG) juga dinilai memegang peran vital dalam menjaga kestabilan pasokan energi nasional melalui penyimpanan dan distribusi yang optimal.
Infrastruktur penting lainnya, ujar dia, adalah jaringan pipa dan transportasi gas bumi untuk meningkatkan efisiensi distribusi, mengurangi biaya logistik, dan memperkuat ketahanan energi.
“Selain itu, fasilitas petrokimia untuk mendukung produksi bahan baku industri dalam negeri dan menekan impor,” kata dia.
Menurutnya, capaian hilirisasi migas saat ini juga mulai terlihat nyata. Pabrik petrokimia terintegrasi di Cilegon, Banten yang baru-baru ini diresmikan Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi tonggak penting yang menunjukkan kemampuan Indonesia mengolah sumber daya alamnya sendiri sekaligus menciptakan peluang kerja bagi generasi muda.
Hilirisasi migas, terutama gas bumi, kata Fathul, juga memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi menuju emisi nol bersih (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. Gas bumi menjadi jembatan energi yang lebih bersih dan mampu mempercepat pencapaian target energi terbarukan.
“Saat ini kita menuju transisi energi. Artinya, kita tidak hanya bergantung pada fossil fuel, tetapi juga bahan bakar nabati,” ujarnya.
Terkait bahan bakar yang ramah lingkungan, Fathul menyebutkan bahwa Program B40 (Biodiesel 40 persen) telah diterapkan sejak Januari 2025. Sementara itu, Program E10 (Etanol 10 persen) ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2027, sebagai bagian dari langkah Pemerintah memperluas penggunaan energi bersih.
Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi Satya Hangga Yudha, di kesempatan yang sama, mengatakan program B40 mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor, terutama impor minyak solar.
Dengan pengurangan impor minyak, ujar dia, maka akan menghemat devisa negara. Ia juga menekankan perlunya sinkronisasi antara fossil fuel dan energi terbarukan untuk mencapai target NZE 2060 atau lebih cepat.
Baca juga: BPH Migas pastikan pasokan BBM tersedia di Sumatera Utara
Baca juga: BPH Migas pastikan penyaluran BBM berjalan baik saat Natal-Tahun Baru
Baca juga: BPH Migas mendorong penguatan manajemen "asset integrity" badan usaha
Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































