Makassar (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah IV Makassar mengimbau masyarakat tetap waspada dan awas atas segala potensi yang bisa terjadi pascagempa berkekuatan Magnitudo 7,7 di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang getarannya turut dirasakan di Sulawesi Selatan.
"Imbauan BMKG kepada masyarakat, sudah bisa kembali ke rumah masing-masing karena peringatan ini tsunami sudah dinyatakan berakhir. Tetap waspada," ujar Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar Jamroni di Makassar, Sabtu.
Ia menjelaskan dari perkembangan terakhir setelah gempa terjadi di NTT itu, dilaporkan terjadi gempa susulan sebanyak 82 kali. Meski cukup banyak, namun tidak sebesar di awal.
Untuk peringatan dini tsunami dinyatakan sudah berakhir setelah melewati dua jam usai kejadian. Kendati demikian, tsunami kecil sempat terjadi di beberapa lokasi.
Baca juga: Gempa NTT, Badan Geologi ESDM ingatkan warga patuhi jalur evakuasi
Di wilayah Sulsel, kata dia, diketahui ternyata perubahan bukaan laut hingga terbentuk tsunami kecil setinggi 0,5 meter seperti di Pulau Jampea, Kabupaten Selayar, Kabupaten Bulukumba dan beberapa tempat lainnya, termasuk getarannya dirasakan sebagian masyarakat di Kota Makassar.
"Ada perubahan tinggi air. Artinya, tsunami sudah terjadi dengan status waspada, tapi sekarang sudah dinyatakan berakhir setelah dua jam tidak terjadi tsunami yang besar. Itu yang menyebabkan kita harus awas," tuturnya.
Mengenai gempa susulan sudah terjadi 82 kali, kata Jamroni, sudah menurun kekuatannya.
Ia berharap mudah-mudahan tidak ada gempa yang lebih besar. Tetapi, biasanya bila melihat model dari pascagempa itu, maka semakin menurun kekuatannya.
Terkait dengan dampak kerusakan yang ditimbulkan khusus di wilayah Sulsel, dia mengatakan sejauh ini belum ada laporan terdampak kerusakan. Dari laporan BPBD Selayar, tidak ada kerusakan bangunan.
"Kerusakan lebih banyak di wilayah NTT, di Ende. Tadi ada foto untuk rumah roboh, kemudian retakan pada pelabuhan. Sedangkan di wilayah Sulawesi Selatan belum ada, masih di wilayah NTT," tuturnya.
Baca juga: Gempa NTT jadi pengingat keberadaan zona aktif di Nusa Tenggara
Kendati getaran gempa paling terasa pada sebagai pulau yang ada di Selayar, Jamroni mengemukakan, karena wilayahnya dekat dengan NTT dan berada pada wilayah paling selatan, seperti di Pulau Madu, Pulau Pasir Lambena.
"Itu jarak tidak terlalu jauh, pusat gempanya di sekitaran wilayah itu, sehingga untuk getaran kemungkinan dapat. Air naik atau surut kemungkinan di dapat karena posisi patahan yang sifatnya naik," katanya lagi.
Sebelumnya, terjadi musibah gempa pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 04.58 WIB dengan kekuatan 7,7. Pusat gempa (episenter) terletak pada titik koordinat 8,35 Lintang Selatan dan 121,37 Bujur Timur, sekitar 36 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT pada kedalaman 15 kilometer.
Baca juga: Kapolda NTT : Evakuasi korban gempa Flores jadi prioritas utama
Baca juga: BMKG : 111 gempa susulan terjadi pascagempa magnitudo 7,7
Baca juga: Gubernur sebut wilayah utara Flores paling terdampak gempa
Pewarta: M Darwin Fatir
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































