BI kalibrasi intervensi rupiah berdasarkan tiga skenario dampak perang

2 hours ago 1
Kami terus mengoptimalkan di moneter 3 instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga

Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) siap melakukan kalibrasi instrumen intervensi rupiah dengan menyesuaikan respons terhadap tiga skenario dampak perang Timur Tengah yaitu jika harga minyak dunia tidak terlalu tinggi, menengah dan tinggi.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan upaya tersebut juga diperkuat dengan menjaga cadangan devisa dan respons kebijakan suku bunga.

“Kami terus mengoptimalkan di moneter tiga instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, Selasa.

Sebagaimana diketahui, kebijakan stabilisasi nilai tukar dijalankan BI melalui triple intervention, yaitu intervensi di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), intervensi di pasar domestik melalui spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder.

Baca juga: Gubernur BI: Volume transaksi pembayaran digital tumbuh 40,35 persen

Baca juga: BI tak lagi singgung sinyal pemangkasan BI-Rate, utamakan stabilitas

Perry menjelaskan bahwa kalibrasi ketiga instrumen akan bergantung pada seberapa jauh eskalasi perang Timur Tengah berlangsung dan dampaknya terhadap harga minyak, pertumbuhan ekonomi serta inflasi global, pergerakan dolar AS, aliran portofolio keluar dari emerging market, serta tingkat yield US Treasury.

Ia memastikan dalam dua hari terakhir atau selama Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Senin (16/3) dan Selasa (17/3), bank sentral telah melakukan perhitungan skenario untuk menilai kemungkinan durasi, intensitas, dan dampak perang terhadap berbagai indikator ekonomi.

Perry menyebutkan dampak utama pertama adalah pada harga minyak dunia dan rambatannya terhadap pertumbuhan ekonomi serta inflasi global, yang diperkirakan akan menekan pertumbuhan ekonomi global dan mendorong inflasi lebih tinggi.

Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diprakirakan akan lebih lambat menjadi 3,1 persen dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,2 persen.

Di sisi lain, tekanan inflasi global juga meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen sehingga mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter global.

Selain itu, BI juga menakar dampak perang terhadap pasar keuangan global. Perry menyampaikan bahwa aliran modal portofolio asing telah keluar dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga meningkat seiring penguatan dolar AS. Sementara tingginya imbal hasil (yield) US Treasury berdampak pada suku bunga dan yield obligasi pemerintah di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.

Seiring dengan perkembangan tersebut, BI dalam pengumuman RDG kali ini tidak menyinggung ruang pemangkasan BI-Rate seperti dalam RDG-RDG sebelumnya.

“Oleh karena itu, dampak perang Timur Tengah ini, itu kenapa kami dalam pernyataan tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga. Itu kami hilangkan dari pernyataan ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI-Rate selama ini untuk memperkuat intervensi dan kecukupan cadangan devisa dan menakarnya ke depan sesuai dinamika yang ada ke depan,” kata Perry.

Pada RDG Maret 2026, BI kembali mempertahankan BI-Rate pada level 4,75 persen. Begitu pula suku bunga deposit facility dan lending facility yang tetap masing-masing pada level 3,75 persen dan 5,50 persen.

BI menyampaikan keputusan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

Langkah ini menandai dipertahankannya BI-Rate sejak Oktober 2025, setelah penurunan sebesar 150 bps sejak September 2024 atau 125 bps sepanjang tahun 2025.

Baca juga: Gubernur BI: Kredit perbankan tumbuh 9,37 persen pada Februari 2026

Baca juga: BI: Insentif KLM pekan pertama Maret 2026 capai Rp427,1 triliun

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |