BI: Ekonomi Banyumas Raya tumbuh di tengah risiko kekeringan

1 week ago 4

Purwokerto, Jateng (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto menyebutkan perekonomian di wilayah Banyumas Raya tumbuh pada triwulan I 2026 di tengah peningkatan risiko kekeringan pada semester II tahun ini.

Dalam media briefing bagi wartawan se-Jawa Tengah, yang digelar KPwBI Jawa Tengah secara hibrida di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis, Kepala KPwBI Purwokerto Aswin Gantina mengatakan pertumbuhan ekonomi di wilayah Banyumas Raya pada triwulan I ini didorong oleh menguatnya konsumsi rumah tangga,

"Penguatan konsumsi rumah tangga itu terjadi seiring kenaikan UMP (upah minimum provinsi), pencairan THR (tunjangan hari raya), penyaluran stimulus pemerintah, serta meningkatnya aktivitas ekonomi selama Ramadhan dan Idul Fitri," katanya.

Ia mengatakan berlanjutnya proyek strategis pemerintah dan swasta serta masuknya investasi turut menopang pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aktivitas investasi, khususnya sektor konstruksi.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi terjadi di empat kabupaten yang menjadi wilayah kerja KPwBI Purwokerto, yakni Kabupaten Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, dan Purbalingga (Banyumas Raya).

Sejumlah sektor utama yang mengalami peningkatan meliputi industri pengolahan, pertanian, kehutanan dan perikanan, perdagangan, serta konstruksi.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya ditopang investasi, konsumsi pemerintah, dan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.

Sementara itu, dari sisi stabilitas harga, Purwokerto dan Cilacap mengalami deflasi pada Juli 2026.

Purwokerto mencatat deflasi sebesar 0,05 persen, sedangkan Cilacap 0,06 persen.

Aswin mengatakan capaian tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.

Di Banyumas, deflasi terutama didorong penurunan harga bensin, telepon seluler, sepeda motor, bawang putih, dan daging ayam ras.

Namun, penurunan lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, serta emas perhiasan.

Kondisi serupa terjadi di Cilacap dengan bensin menjadi salah satu komoditas pendorong deflasi, sementara bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan emas perhiasan menahan laju penurunan harga.

"Menghadapi perkembangan ke depan, BI mewaspadai kondisi iklim pada semester II 2026 yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan hingga akhir September," katanya.

Aswin mengatakan Bank Indonesia bersama pemerintah daerah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga produksi pangan dan stabilitas harga.

Langkah tersebut antara lain memastikan kecukupan pengairan pertanian melalui optimalisasi jaringan irigasi, pompanisasi, pengelolaan sumber air, serta mendorong penggunaan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap musim kemarau.

"Selain itu, juga terus mengembangkan sentra-sentra pangan, optimalisasi lahan pertanian, pengembangan kelompok tani muda atau tani milenial, serta implementasi digital farming untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga kesinambungan pasokan pangan," katanya.

Ia mengatakan Bank Indonesia juga mengintensifkan pendampingan kepada kelompok tani dan petani muda, memperkuat kerja sama antardaerah, serta melanjutkan operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah untuk menjaga keterjangkauan harga komoditas pangan strategis.

Menurut dia, pengawasan harga sesuai harga eceran tertinggi dan pemantauan dampak penyesuaian biaya distribusi serta logistik terhadap harga di tingkat konsumen juga diperkuat.

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |