BGN telusuri dugaan keracunan penerima MBG di Nabire

5 hours ago 2
...Dokter belum bisa memastikan apakah gejala tersebut disebabkan oleh makanan MBG atau faktor lain

Nabire (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Papua Tengah menelusuri dugaan keracunan makanan yang dialami tujuh penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut.

Koordinator Wilayah BGN Nabire Marsel Asyerem di Nabire, Sabtu, mengatakan tujuh orang yang mengalami gejala gangguan kesehatan tersebut terdiri dari tiga guru dan empat siswa dari tiga sekolah yakni TK Gracia, SMP Negeri 7, dan SD Inpres Waharia.

“Ketujuh orang tersebut mengalami gejala yang sama yaitu diare, muntah dan pusing sehingga ada dugaan keracunan akibat bakteri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketiga sekolah tersebut merupakan bagian penerima layanan MBG dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lani.

SPPG Lani sendiri saat ini melayani 17 sekolah dengan total penerima manfaat sebanyak 1.892 orang yang terdiri dari siswa dan guru.

Baca juga: BBPOM Mataram telusuri sumber roti MBG berjamur di Lombok Barat

“Dari total 1.892 penerima manfaat tersebut, hanya tujuh orang yang dilaporkan mengalami gejala diare, muntah, dan pusing,” katanya.

Ia menjelaskan, ketujuh orang tersebut mengalami gejala yang sama pada Rabu (11/3), namun laporan baru disampaikan kepada BGN pada Jumat (13/3), sehingga pihaknya segera berkoordinasi dengan dokter untuk menangani pasien.

Berdasarkan pemeriksaan awal, dokter menemukan adanya bakteri yang diduga mengganggu sistem imun tubuh pasien. Namun demikian, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih belum dapat dipastikan.

“Dokter belum bisa memastikan apakah gejala tersebut disebabkan oleh makanan MBG atau faktor lain,” ujarnya.

Ia menambahkan untuk memastikan penyebabnya diperlukan uji laboratorium terhadap sampel muntahan pasien. Namun pemeriksaan tersebut tidak dapat dilakukan di Nabire dan harus dikirim ke laboratorium di Jayapura.

Baca juga: BGN hentikan sementara SPPG Pamekasan Pademawu usai temuan lele mentah

Ia menjelaskan dari tujuh orang yang mengalami gejala tersebut, tiga orang diketahui mengonsumsi makanan MBG di rumah karena makanan dibawa pulang, sementara empat orang lainnya mengonsumsi makanan tersebut di sekolah.

Padahal, makanan basah dalam program MBG seharusnya dikonsumsi langsung di sekolah dan tidak diperbolehkan dibawa pulang karena berpotensi basi.

Meski penyebab pasti kejadian tersebut belum diketahui, BGN telah melaporkan kasus tersebut kepada BGN pusat untuk dilakukan evaluasi terhadap dapur SPPG terkait.

Selain itu, pihaknya juga telah menginstruksikan seluruh dapur SPPG di Nabire untuk memperketat standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan guna mencegah kejadian serupa.

BGN juga memastikan seluruh penerima manfaat yang mengalami gejala keracunan tersebut mendapatkan penanganan medis yang baik.

Sebanyak lima orang yang sebelumnya dirawat di Klinik Rihensa kemudian dipindahkan ke Klinik Alfa Benedik Jaya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih optimal.

BGN juga menanggung seluruh biaya perawatan kelima pasien tersebut di Klinik Rihensa dengan total tagihan mencapai Rp9,84 juta.

“Setelah berkoordinasi dengan Kepala SPPG Lani dan mitra, lima pasien yang dirawat di Klinik Rihensa dipindahkan ke Klinik Alfa Benedik Jaya agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik,” katanya.

Baca juga: Penajam larang SPPG libatkan pihak ketiga antisipasi keracunan MBG

Baca juga: Kemarin, 1.512 SPPG dihentikan sementara hingga UI teliti dampak MBG

Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |