BGN setop sementara dua SPPG milik orang yang mengaku cucu menteri

5 hours ago 4
Hentikan! Kalau perlu selamanya, kalau mereka tidak menunjukkan perbaikan sikap mereka kepada Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan

Jakarta (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara atau suspend dua yayasan yang mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Ponorogo, Jawa Timur, dan mengaku sebagai cucu dari menteri untuk menekan kepala SPPG, pengawas gizi, hingga pengawas keuangan.

Kepala SPPG Ponorogo Kauman Somorto, Rizal Zulfikar Fikri, bersama Kepala SPPG Ponorogo Jambon Krebet, Moch. Syafi'i Misbachul Mufid, menghampiri Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang pada kunjungannya ke Blitar, Jawa Timur, untuk meminta perlindungan karena mengaku ditekan dan diintimidasi pengelola SPPG di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara.

"Dua Kepala SPPG dari Ponorogo ini jauh-jauh datang ke Blitar untuk menemui saya karena minta perlindungan, ternyata selama berbulan-bulan mereka bersama pengawas gizi dan pengawas keuangan selalu ditekan dan diintimidasi sebuah yayasan yang mengaku dimiliki seorang cucu menteri," kata Nanik S Deyang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Yayasan yang membawahi kedua SPPG itu disinyalir juga telah merekayasa pembelian bahan pangan.

Baca juga: Polres Ponorogo bangun tiga dapur SPPG dukung program MBG

Dari anggaran Rp10 ribu per porsi untuk pembelian bahan pangan yang ditetapkan BGN, mereka hanya membelanjakan Rp6.500 per porsi. Akibatnya, kedua kepala SPPG itu kerap harus nombok atau menutup kekurangan belanja dari kantong pribadi agar menu terlihat pantas.

"Mau enggak mau, kami nombok, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat," kata Mufid.

Perbuatan pemilik yayasan yang menaungi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) itu, kata Nanik, sungguh tidak manusiawi dan tidak pantas.

Selama ini, kedua Kepala SPPG itu terus ditekan dan ditakut-takut akan didatangkan polisi atau pengacara jika tidak mengikuti kemauan yayasan. Bahkan semua relawan dan sekolah penerima manfaat pun diminta tanda tangan untuk mengusir kedua kepala SPPG itu.

Mendengar keluhan dan pengaduan kedua kepala SPPG yang sampai menangis malam itu, Nanik langsung menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN Brigjen TNI Albertus Dony Dewantoro untuk menginspeksi kedua dapur itu secara langsung.

Baca juga: BP Taskin tinjau lokasi tambahan dapur gizi di Ponorogo

Nanik sangat marah karena kedua kepala SPPG itu direkrut sebagai perwakilan BGN, tetapi ada upaya yayasan untuk menyingkirkan mereka dengan cara-cara yang keji. Oleh karena itu ia langsung memerintahkan Brigjen Dony untuk menutup dapur itu.

"Hentikan! Kalau perlu selamanya, kalau mereka tidak menunjukkan perbaikan sikap mereka kepada Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan," ucap Nanik.

Nanik kemudian langsung menelepon menteri yang diklaim memiliki keturunan dari oknum pemilik yayasan. Dengan tegas, menteri itu mengatakan bahwa beliau tidak memiliki cucu bernama X yang memiliki kedua dapur itu, bahkan menegaskan jika ada orang yang mengaku sebagai keluarganya untuk ditutup saja SPPG-nya.

Baca juga: DPRD Ponorogo pastikan pelaksanaan program MBG sesuai prosedur

Sementara di lokasi, tim sidak menemukan kondisi dapur yang kotor, bau, jorok, dan belum memenuhi ketentuan petunjuk teknis maupun SOP (Standar Operasional Prosedur) SPPG, misal lantai dapur yang mengelupas, dinding-dinding dapur yang kotor, keropos dan berjamur, ruang pemorsian yang tidak layak dan tidak ber-AC, tidak ada ruang istirahat, serta penyimpanan seadanya dan tidak terpisah.

Untuk memperbaiki berbagai sarana dan prasarana SPPG, kedua kepala SPPG itu terpaksa juga merogoh kocek mereka karena yayasan yang mengelola kedua SPPG itu maupun pemiliknya tidak mau keluar uang untuk sekadar memperbaiki dapur. Padahal berbagai sarana dan prasarana SPPG sangat buruk.

Saat mencium aroma busuk yang menguar dari kedua dapur itu, Brigjen Dony menegaskan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mereka sangat tidak memadai dan hanya memakai buis beton bersambung yang isinya sudah hampir meluap dan hanya ditutup dengan triplek tipis.

"Dapur-dapur ini sangat tidak layak untuk dilanjutkan," ujar Dony.

Baca juga: BGN minta SPPG di bangunan rumah burung walet Ponorogo direlokasi

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |