Beijing bantah klaim Trump terkait sikap Presiden Xi terhadap Taiwan

11 hours ago 6

Beijing (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri China membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengatakan bahwa Presiden Xi Jinping tidak akan mencoba merebut Taiwan selama dia masih menjabat sebagai presiden.

"Isu Taiwan sepenuhnya merupakan urusan dalam negeri China. Cara penyelesaiannya adalah urusan rakyat China sendiri dan tidak mentoleransi campur tangan pihak luar," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Jumat.

Hal itu disampaikan untuk merespons pernyataan Trump kepada media The New York Times yang mengatakan "Dia (Presiden Xi Jinping) mungkin akan melakukannya setelah kita punya presiden yang berbeda, tetapi saya tidak merasa dia akan melakukannya saat saya menjadi presiden,".

"Taiwan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah China," tegas Mao Ning.

Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan “Itu terserah dia (Xi), apa yang akan dia lakukan. Namun, saya telah menyampaikan kepadanya bahwa saya akan sangat tidak senang jika dia melakukan itu, dan saya tidak berpikir dia akan melakukannya.”

AS diketahui melakukan penjualan senjata dan peralatan terkait senilai lebih dari 11 miliar dolar AS (sekitar Rp183,9 triliun) pada 17 Desember 2025. Atas tindakan itu, pemerintah China sudah menyatakan protes keras kepada AS.

Paket AS tersebut mencakup delapan sistem persenjataan, termasuk Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (High Mobility Artillery Rocket Systems/HIMARS) dan rudal antitank Javelin, menurut Defense Security Cooperation Agency (DSCA), yang telah memberi tahu Kongres mengenai rencana tersebut setelah adanya keputusan Departemen Luar Negeri AS.

Selain 82 unit HIMARS dan lebih dari 1.000 rudal Javelin, paket tersebut juga mencakup 60 sistem howitzer swagerak beserta peralatan terkait dengan nilai lebih dari 4 miliar dolar AS (Rp66,9 triliun).

Penjualan itu ditujukan untuk meningkatkan kemampuan Taiwan dalam menghadapi ancaman saat ini dan di masa depan dengan memperkuat pertahanan diri pasukannya.

Selain itu, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) juga melakukan latihan militer mengelilingi Pulau Taiwan pada 29 Desember 205 sebagai peringatan keras terhadap kekuatan separatis "kemerdekaan Taiwan" dan campur tangan kekuatan eksternal.

Selain latihan militer, China juga sudah menjatuhkan sanksi terhadap 20 perusahaan militer AS dan 10 orang petinggi korporasi terkait penjualan senjata ke Taiwan.

Baca juga: China pamer kekuatan militer lewat latihan besar di sekitar Taiwan

Baca juga: Xi Jinping sebut penyatuan Taiwan dengan China tidak terbendung

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |