Kuala Lumpur (ANTARA) - Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) memperkirakan fenomena cuaca panas melanda sejumlah wilayah di Malaysia mulai akhir Maret hingga Juni 2026 mendatang.
MetMalaysia menyampaikan Malaysia saat ini berada pada fase akhir Monsun Timur Laut (MTL), yang ditandai dengan berkurangnya curah hujan dan kondisi cuaca lebih panas dan kering, terutama di bagian utara Malaysia dan pedalaman semenanjung.
Kondisi panas diperkirakan berlanjut hingga awal musim Monsun Barat Daya pada Juni, menyusul atmosfer lebih kering dan curah hujan lebih rendah, demikian laporan MetMalaysia seperti dikutip dari BERNAMA di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu.
Wakil Dirjen (Operasi) MetMalaysia Ambun Dindang menyatakan berdasarkan proyeksi model cuaca lokal dan internasional, Malaysia diperkirakan akan mengalami pola cuaca lebih kering dengan curah hujan lebih rendah dari biasanya selama beberapa bulan ke depan.
Ambun mengatakan bahwa wilayah utara Semenanjung Malaysia, seperti Kedah—termasuk Pendang, Baling, dan Padang Terap—lebih rentan terhadap cuaca panas karena faktor geografis dan pola angin MTL yang membawa lebih banyak kelembapan ke Pantai Timur dan bagian selatan Semenanjung serta Sabah dan Sarawak.
Berdasarkan model iklim global, tambahnya, Malaysia tidak terkecuali mengalami peningkatan frekuensi hari-hari panas ekstrem, terutama jika dipengaruhi oleh fenomena El Nino.
Baca juga: 19 kawasan di Malaysia berstatus waspada, satu terkena gelombang panas
Gelombang panas
Menurut laporan media Malaysia, tiga distrik di Kedah saat ini mencatat gelombang panas Level 2, sementara 16 wilayah lain di Semenanjung Malaysia berada pada Level 1 siaga pada Rabu pagi.
MetMalaysia mengumumkan bahwa distrik-distrik yang terdampak Level 2 di Kedah adalah Pokok Sena, Pendang, dan Baling.
Sementara itu, 16 kabupaten yang berada di bawah Level 1 adalah Sik, Padang Terap, Kubang Pasu, Langkawi, Kuala Muda, Kulim dan Bandar Baharu di Kedah; seluruh Perlis serta wilayah Timur Laut dan Utara di Penang.
Daerah yang juga tercatat berstatus sama adalah Hulu Perak, Selama, Kinta dan Kuala Kangsar di Perak, selain distrik Jerantut dan Raub di Pahang.
Status Level 2 atau gelombang panas dinyatakan ketika suhu maksimum berada dalam kisaran 37 hingga 40 derajat Celcius selama setidaknya tiga hari berturut-turut.
Sementara itu, status Level 1 mengacu pada suhu maksimum harian yang mencapai 35 hingga 37 derajat Celcius selama setidaknya tiga hari berturut-turut.
Baca juga: Masyarakat di Malaysia diimbau banyak minum air karena cuaca terik
Sebatik kekeringan
Dalam laporan terpisah, Komite Penanggulangan Bencana Daerah (JPBD) Kabupaten Tawau, Rabu, menyatakan situasi kekeringan di Pulau Sebatik.
Ketua Dewan Kota Tawau, Datuk Joseph Pang, yang juga memimpin komite tersebut, mengatakan bahwa deklarasi tersebut mencakup wilayah pulau di dalam distrik tersebut.
"Dengan ini, diumumkan pada pukul 10 pagi hari ini bahwa bencana kekeringan telah terjadi di Pulau Sebatik, Tawau," katanya dalam sebuah pernyataan.
la menambahkan bahwa keputusan tersebut dibuat setelah menilai situasi terkini berdasarkan laporan dan data lapangan, yang menunjukkan bahwa daerah tersebut mengalami kondisi kekeringan berkepanjangan.
Pulau Sebatik adalah sebuah pulau yang terbagi antara dua negara, dengan bagian utaranya terletak di Malaysia dan bagian selatannya di Indonesia.
Baca juga: Sekolah di Malaysia diimbau setop kegiatan luar ruang bila cuaca panas
Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































