Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mendorong optimalisasi perangkat darurat Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) dan penguatan komunikasi antarkapal untuk meningkatkan respons pencarian dan pertolongan (SAR) di laut.
Syafii mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari evaluasi Basarnas setelah menangani sejumlah kecelakaan transportasi laut dalam beberapa waktu terakhir.
“Yang seharusnya bahwa EPIRB pada saat adanya kedaruratan itu diaktifkan akan mempermudah kami dalam pelaksanaan operasi,” kata Syafii dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan Basarnas masih menemukan perangkat EPIRB belum dimanfaatkan secara optimal dalam sejumlah kecelakaan yang ditangani.
Selain perangkat darurat, Syafii menilai penguatan komunikasi dengan kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi kejadian juga penting karena Basarnas masih menghadapi kendala untuk dapat berkomunikasi langsung dengan seluruh lalu lintas kapal.
Baca juga: Basarnas minta para pemilik kapal registrasi EPIRB
Baca juga: Basarnas sosialisasikan EPIRB kepada perusahaan pelayaran di Kepri
Ia mengungkapkan, dalam penanganan kebakaran KM Mutiara Sentosa II, misalnya, Basarnas memanfaatkan stasiun radio pantai serta aplikasi e-broadcast Basarnas Command Center untuk menyebarkan informasi kedaruratan kepada kapal-kapal di sekitar lokasi.
“Konsep yang didorong Basarnas adalah membangun ekosistem pertolongan yang semakin responsif dengan memanfaatkan seluruh potensi yang tersedia di sekitar lokasi kejadian,” ujarnya.
Menurut Syafii, pada kondisi tertentu kapal yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian dapat menjadi unsur pertama yang memberikan pertolongan sebelum sarana SAR pemerintah tiba.
Sepanjang Januari hingga 15 Agustus 2026, Basarnas mencatat telah melaksanakan 601 operasi SAR khusus terkait kecelakaan kapal dengan total 3.607 orang terdampak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.165 orang berhasil diselamatkan, 239 orang meninggal dunia, dan 203 orang dinyatakan hilang. Sebanyak 220 orang dari keseluruhan korban merupakan warga negara asing.
Syafii mengatakan operasi tersebut mencakup berbagai jenis kedaruratan yang ditangani Basarnas, mulai dari kapal bocor hingga evakuasi medis (medical evacuation).
Selain optimalisasi EPIRB dan komunikasi, Basarnas merekomendasikan penguatan perlengkapan keselamatan, pengarahan keselamatan (safety briefing) kepada penumpang, serta latihan kedaruratan terpadu untuk meningkatkan kesiapan ketika terjadi keadaan darurat.
Basarnas juga berupaya meningkatkan kemampuan operasi agar dapat memberikan waktu respons yang semakin baik dalam menjamin keselamatan masyarakat.
“Mudah-mudahan kami ke depan bisa meningkatkan kemampuan kami di Basarnas untuk bisa hadir dan juga memberikan response time yang terbaik untuk menjamin keselamatan,” ucap Syafii.
Dalam rapat yang sama, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan penguatan keselamatan pelayaran diarahkan untuk mencegah kecelakaan, menjamin keselamatan penumpang dan awak kapal, menjaga kelancaran operasional pelayaran, serta meningkatkan budaya keselamatan.
Baca juga: Basarnas sosialisasi sistem deteksi dini bahaya saat berlayar
Baca juga: Basarnas ingatkan pemilik kapal daftarkan alat keselamatan dIni
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































